Selasa, 22 Januari 2019

Harley Davidson pun Berdzikir



Deru Harley Davidson bergemuruh disekitar kafe Susi. Sepuluh lelaki kekar turun, dengan tato dan arogansinya. Muka mereka tampak seram, tapi juga tidak terlalu garang. 

“Ada Jack disini?” taya komandan mereka pada Satpam. 

“Ada Pak, di dalam,” 

Merekapun masuk satu per satu ke kafe itu. Begitu memasuki sudut kafe, mereka berteriak bersama-sama. Dan aneh, mereka justru meneriakkan takbir, “Allahu Akbar!” Suara yang hampir-hampir meruntuhkan gedung kafe itu, dan hampir-hampir membubarkan seisi kafe itu. 

“Jaaack! 
Luar biaasa! 
Sudah saya duga, kawan kita ini akan tetap nyentrik, dan tidak akan sembuh dari kegilaanya … Haa…ha…ha…,” kata salah seorang pengendara Harley itu. 

Rupanya antara Jack dan mereka seperti sahabat yang kental sekali, dan Jack telah lama menghilang, 10 tahun lamanya, dari klub mereka itu. Jack hanya menjadi bahan pembicaraan mereka selama sepuluh tahun itu, karena Jack pergi begitu saja, setelah meninggalkan kesan spiritual yang begitu mendalam diantara mereka. 

Di klub Harley itu, Jack memang menjadi angota kehormatan, sekaligus sebagai psikolog bagi mereka. Anehnya, satu per satu mulai mengikuti jejak spiritual Jack, dan anehnya, mereka banyak yang mengikuti tareqat sufi, seperti Jack. Bahkan mereka tak harus melapaskan diri dari kegemaran mereka, bersepeda motor besar. 

“Kapan dong…? Kalau teman-teman sampai tahu ente ada di Jakarta, pasti ente sudah tidak boleh kemana-mana lagi, tidak boleh menghilang lagi. Kita kangen Jack… kita kangen. Masak ente biarin kita-kita ini terlantar. Masak ente tega…” 

Mendengar curhat satu per satu diantara kawan-kawan klub motor besar itu, Jack hanya senyum-senyum, sesekali meledakkan tawanya, karena banyak sekali kisah-kisah lucu, bahkan ekstrim, diantara mereka selama sepuluh tahun terakhir ini. 

“Sudah! Ini tidak boleh ditawar lagi. Kita rayakan kembali si Jack. Bukan disini, di klub kita tempat nongkrong. Kita adakan dzikir bersama disana, bersama Jama’ah Motor Besar … Ha…ha…ha… Setuju !!!” 

Jack tak berkutik. Diam-diam ia terharu. Ia juga tak pernah berfikir sejauh itu, disaat awal dirinya bergabung dengan klub motor itu. Di luar dugaan mereka menjadi pengamal dunia sufi yang hebat, dan bahkan berkembang pesat diluar bayangan Jack sendiri. Tetapi memang, hidayah Allah jika sudah turun kepada seseorang, tak satupun yang bias menghalangi. 

“Jack, sekarang ini ada tradisi baru di antara kawan-kawan,” celetuk Jony.
“Apa Jon?”
“Ya, sekadar mempraktikkan ajaran Andalah… Mana lagi kalu bukan Anda yang kasih. Masak sudah lupa?”
“Apa itu? Saya sudah benar-benar lupa lho…”
“Yah, payah deh. Kan ente bilang, agar kita belajar berdzikir dari deru suara Harley Davidson ini…”
Jack tertawa terbahak-bahak samai tubuhnya terguncang-guncang.
“Iya…ya…yaa… saya ingat. Jadi kalian semua terus melatih dzikir lewat suara mesin ? Wah, kalau begitu akan saya umumkan ke seluruh dunia tareqat, bahwa kalianlah satu-satunya klub tareqat motoriyah, yang berdzikir melalui deru motor, gemuruh mesin dan bertasbih bersama kecepatan mekanik jiwa Anda. Luar biasa… luar… biasa. Anda satu-satunya di dunia… Ha…ha…ha…” 

Diantara jengah tawa mereka, perempuan cantik berpakaian ketat menghampiri mereka dengan senyum yang khas. Susi, pelayan kafe itu sengaja bergabung dengan teman-teman Jack.
“Kenalkan, saya Susi…”
Susi yang cantik itu hanya membuat para pemotor besar itu ndomblong bolong, antara percaya dan tidak.
“Jack, buat kite mane donk…”
“Kalian perlu tahu, kalau kalian adalah pemotor yang penuh dengan dzikir, maka Susi adalah waitres penuh dengan gairah rindu Ilahi. Lihat bagaimana dia tersenyum dan menyapa, lihat pula bagaimana teduhnya matanya. Pandangan matanya saja, bukan membuat kita jadi nakal, tapi malah menjadi obat pelipur duka jiwa. Membuat kita malah bertobat…”
“Ya, Jack, benar! Dapat dari mana kamu, Jack.”
“Dari kubangan Lumpur di jakarta.”
Mereka manggut-manggut sambil memandang Susi lewat…

Si Jack

Nama Jack sama sekali tidak dikenal di kalangan Ulama, Kyai, cendekiawan Muslim atau pun para Ustadz di Jakarta. Ia dikenal dengan nama yang mirip dengan nama-nama Ustadz atau Kiai. Kebetulan malam itu, Jack mendatangi sebuah undangan musyawarah alim Ulama dan Ustadz-ustadz se jabotabek. Tidak jelas, dalam rangka apa sesungguhnya mereka dikumpulkan. Sebab sudah jadi salah kaprah saat ini, para Kiai, Ulama, Ustadz sering dikumpulkan untuk dukung mendukung kekuasaan atau orang perorang. Jack tidak peduli, dan dia mau datang, apakah untuk mendukung seseorang atau tidak, ia hanya berniat baik belaka.

Wow, ternyata yang datang dari berbagai kalangan Ulama. Ada yang muda adat yang tua, ada yang dipapah sakit-sakitan, ada yang kelihatan klimis layaknya selebritis, ada pula yang berjubah ala jenggotan.

“Wah, bagus ini!” kata Jack dalam hati. Tidak jelas kenapa Jack membatin begitu.

Ketika mereka memasuki arena itu, penerima tamu sangat kaget dengan pakaian Jack yang mirip koboy. Jack lupa, sepulang dari wilayah remang-remang dia langsung menuju ke arena itu. Ia baru sadar ketika seorang penerima tamu agak curiga dengan kehadiran Jack.  Untung dia membawa undangan.

“Betulkah bapak ini Ustadz…..hmmm….”

“Ya.!” Jawab Jack singkat agak garang pula.

Penerima tamu itu hanya bisa melongo kayak kebo.

Acara dimulai dari pidato ke pidato. Rupanya Jack baru ingat kalau tema pertemuan itu akan membicarakan peran Ulama dan Cendekiawan Muslim untuk membangun Jakarta. Akh… rupanya pidato demi pidato berlangsung seperti lomba pidato. Semua bicara dengan gaya model orator jurkam, hantam sana hantam sini, hanya supaya disebut sebagai jagoan Jakarta. Sementara yang lain pidato kencang soal syariat melulu, kelihatan betapa dangkalnya pengetahuan mereka tentang agama. Yang lain berbusa-busa agar bisa disebut sebagai mubaligh kondang.Rasanya Jack ingin segera keluar dari arena itu. Bahkan ada sedikit penyesalan, kenapa harus datang ke tempat atau forum yang tidak lebih mirip dibanding tempat hiburan di remang-remang Jakarta?

Merek kelihatan suci, tapi hatinya? Belum tentu lebih mulia dari penghibur malam.Mereka bicara perlunya sedekah, amal jariyah, zakat, tapi selama itu pula mereka tidak mau merogoh koceknya untuk amal, malah kalau perlu mengumpulkam amal jariyah orang lain untuk kekayaannya. Mereka bicara soal Islam, soal mengikuti Sunnah Nabi, tapi mereka adalah orang yang kering jiwanya dari ajaran hakiki Rasulullah SAW. Mereka mengusulkan agar masyarakat Jakarta lebih dekat dengan Allah, tapi ironisnya justru Ustadz itu hatinya sering berselingkuh dengan hawa nafsunya, lalu berkali-kali jiwanya kehilangan Allah. Ironis, dan inilah yang membuat hati Jack gregetan.

“Astaghfirullahal ‘adziim,” lenguh Jack.

Sambil bersunggut-sungut ia keluar menuju kamar kecil. Ia ambil air wudlu, untuk meredam emosinya.  Bahkan ia juga takut sendiri, jangan-jangan apa yang dilakukan selama ini di remang-remang kota, bisa membuatnya terpeleset pada tipudaya nafsunya. Jangan-jangan terbesit pula, bahwa dirinya merasa cukup mulia di depan Allah.

Padahal… Jack tak mampu meneruskan kata hatinya. Ia istighfar berkali-kali di dekat kamar kecil itu.Lalu ia kembali menyelinap dibalik kerumunan peserta musyawarah itu.

Sedikit lega, begitu masuk acara hendak ditutup. Tiba-tiba terbesit dibenaknya untuk nekad bicara di atas podium, — padahal Jack tidak ada jadwal bicara –.

“Interupsi…Interupsi….Sebelum semua ini ditutup, apakah saya boleh bicara….?" Suara Jack mengagetkan hadirin malam itu. Mereka menyangka Jack bukan salah satu peserta, mungkin saja dilihat dari pakaiannya, anak muda ini pasti intel. Barangkali ada hal yang darurat di Jakarta mengingat situasi politik yang tidak menentu. Lalu kelihatan panitia berbisik-bisik satu sama lain, untuk memberi waktu bicara atau tidak pada Jack.

“Hmmm….Bapak kami silahkan bicara tapi mengingat waktu sudah larut, kami berharap tidak terlalu panjang…”

Semua mata tertuju pada Jack, dengan pakaian jaket kulit dan celana jean khasnya. Ia berjalan dengan gagahnya menuju podium. Ketika berdiri di mimbar, mata Jack menyapu seluruh ruangan itu. Ada aura kharismatik pada cowboy ini. Lalu hening sejenak.

Jack mulai mengucapkan salam, hamdalah dan sholawat Nabi, layaknya para Kyai berpidato. Para hadirin kaget bukan main.

Wajah Jack tiba-tiba berubah sejuk, seperti manusia salju di tengah kegersangan sahara. Saat itu Jack sedang mengutip hikmah demi hikmah dalam Kitab Al-Hikam, lalu suara jack begitu garang ketika mengutip idato-pidato Syeikh Abdul Qadir al-Jilany tentang perilaku Ulama di zamannya yang sudah brengsek.

AC yang dingin di ruangan itu tidak bisa mengalahkan gerahnya hawa nafsu yang emosional dari kalangan Ulama dan mubaligh ibukota itu. Mereka antara kesal, juga diam-diam membenarkan, bahkan mulai simpatik dan menghayati kata demi kata yang meluncur dari Jack.

“Di negeri ini, Allah sedang menyeleksi para Ulama, pejabat, pengusaha, politisi, dan seluruh rakyat. Allah akan melemparkan mereka yang terlempar dari arus kebenaran, kemuliaan, keagungan, dan keluhuran. Subhanallah, kita semua tidak tahu apakah kita yang ada disini, juga akan selamat? Coba kita hitung tinggal berapa gelintir Ulama sepuh kita di Jakarta. Coba kita hitung tinggal berapa puluh kyai di negeri ini yang benar-benar Kyai? Coba kita hitung berapa pesantren yang masih mengajarkan kitab Ihya Ulummuddin, dari 8000 pesantren yang ada? Hadirin sekalian, saya kutipkan firman Allah, “Wahai insan, apa yang memperdayaimu sehingga kamu durhaka pada Tuhanmu Yang Maha Pemurah?”

Hening kembali. Jack pun terdiam, begitu lama…lalu ia tutup dengan salam. Lalu forum itu agak gaduh, karena seorang Kiai yang tadi dipapah, pingsan, bareng dengan usainya pidato Jack. Tidak jelas apakah karena kedinginan, atau karena fisiknya yang renta. Atau ada faktor lain. Jack langsung menghampirinya. Anehnya begitu Jack datang, Kyai itu bangkit dan memeluk Jack erat-erat sembari sesenggukan tangis. Ia bisikkan sesuatu pada Jack, entah apa yag dititipkan pada Jack.Dua orang itu melepaskan pelukannya. Dan malam semakin larut saja.

“Jack, sudah malam, hampir sepertiga terakhir….” Kata seorang wanita dengan suara lembut.

Jack baru sadar, dari lamunan panjangnya mengenai peristiwa forum pertemuan para ulama Jabotabek seminggu yang lalu.

“Ya, Sus….” Jack bangkit, lalu mengambil air wudlu.

...

Selasa, 10 Juni 2014

Sejarah Dalail Khoirot


Shohbet ini ditulis dengan bahasa asli yang keluar dari bahasa hati Syaikh Mustafa Haqqani melalui rekaman audio yang kami putar ulang. Semoga shohbet ini mengetuk pintu Allah agar wushul dan pintu karat hati akibat dari kelalaian, aniaya diri dan kesembronoan kita. Amiin.  

Tema  “Sholat dan Dalail Khoirot”

A’uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim Bismillaahir rahmaanir rahiim Allaahumma shalli ‘alaa Sayyidinaa Muhammadiw wa ‘alaa aalihi wa Shahbihi ajma’iin Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh Allah Allah Aziz Allah Allah Allah Subhan Allah Allah Allah Sulthon Allah


Saudara-saudaraku,

Nanti di akherat akan digelar satu fase atau masa pertanggung jawaban diri, untuk menilai apakah kenormalan yang sejak semula itu terpelihara atau tidak. Sholat adalah bengkel yang stationer. Inna sholaata kaanat ‘alal mu’minina kitaaban mauquta. Sholat itu adalah keniscayaan yang mesti diselenggarakan untuk orang mukmin setiap waktu secara teratur. Untuk apa ? Untuk normalisasi dan memelihara kenormalan itu. Dengan kata lain dapat dikatakan, sholat adalah latihan untuk mati. Itu seyogyanya merupakan bagian akhir dari kehidupan kita di alam fana ini untuk jasmani kita, kalau ruh kita abadi sejak dicipta di jaman azali sampai alam baqa, abadi dengan Allah. Barang siapa menjalani kehidupan ini dengan penuh kelalaian, maka akan penuh penyesalan. Husnul Khotimah adalah kita dijemput oleh malaikat, ruh kita untuk melewati alam barzah ke alam baqa dalam keadaan kita ‘normal’ seperti kita di alam azali, kalau dalam keadaan lalai itu yang menjadi masalah. Maka sholat yang kita lakukan seyogyanya kita kemas sebagai langkah sadar untuk menormalisir kembali pertalian kita dengan akherat, dengan Allah, dan dengan rosulullah. Sholat adalah saat mana dalam sekejap rangsangan badaniah, rangsangan dari luar badan kita, kita putus tali hubungannya. Pikiran tidak kita pekerjakan lagi. Hal-hal sebagai akibat dari rangsangan badaniah kita tidak difungsikan lagi. Sholat bukanlah rutinitas dan bukan mewujudkan ‘apalan donga’ (hapalan doa) dan bukan kearagaan kita, tapi sholat adalah untuk kembali ke normalitas. Terus kita fungsikan diri kita untuk sengaja melakukan sholat bahwa yang sedang sholat aadalah hamba allah yang sedang mencari ridho Allah, hamba Allah yang mencari husnul khotimah ,hamba allah yang mencari keselamatan diakherat nanti supaya bisa dipetik keberuntungan.

Saudara-saudaraku,


Adalah langkah mengetuk dua pintu sekaligus, yaitu pintu wushul atau sampai dan nyambung kepada Allah dan mengetuk sendiri-sendiri katub yang ada pada diri kita. Habis setiap orang itu mengalami bentukan yang sifatnya menutup yang timbul sebagai karat dari kelalaian, keaniayaan diri dan kesembronoan. Semua orang dalam kehidupan ini automatically menginjakan kaki di potensi kebiasaan menunda. Hati ini menyimpan potensi Ruh dan Fitrah tetapi ketutup ‘ambek’ (baca dengan) jumlahnya sembrono, aniaya dan kelalaian. Sholat sekaligus mengetuk 2 pintu yaitu pintu Allah agar wushul dan sekaligus mengetuk pintu katub hati untuk membuang karat dari kelalaian, aniaya diri dan kesembronoan. Sedangkan alat untu untuk ‘wushul’ adalah kedekatan dan kebersamaan diri kita kepada Rosulullah Muhammad SAW. Sholat bukan rangkaian kegiatan yang given. Sholat itu perbuatan yang tergantung pada azam atau kesengajaan dan niat. Sholat adalah langkah kesengajaan yang dilakukan dengan mengatakan “Usholli” (dengan sengaja saya sholat).

Thoriqoh Naqshabndi adalah suatu asosiasi diantara sesama kita bersama guru supaya kita semakin terbimbing kearah kejelasan yaitu kejelasan yang merupakan adonan yang sejak jaman Rosululluh dibangun bersama para sahabat Beliau yang kita tarik sampai masa sekarang melalui mata rantai guru yang mengantarkan kita kepada perspektif seperti itu.

Insya Allah perjumpaan kita disini mencerminkan langkah kita untuk maju, bukan maju sedikit mundur banyak, maju sedikit mundur banyak, akhirnya menuju langkah kemunduran. Tolong itu dielakkan. Segala perbuatan yang kita lakukan harus mulai punya ancang-ancang. Ancang-ancang kesengajaan untuk selalu bersama Rosulullah. Mohon ini dicamkan untuk menjadi sesuatu yang disengaja benar untuk diorientasikan dan ‘disok’ (dituangkan) susunan kesadaran ke dalam diri kita, Semoga taufik dan inayah terlimpah kepada kita semua.

Dengan berkah Rosulullah dan berkah Syaikh Nazim …insya Allah …..Bihurmati suratul fatehah…..

Allah Allah Aziz Allah
Allah Allah Sulthon Allah

Sejarah Dalail Khoirot


Ada seorang alim (adalah orang yang memiliki pengetahuan tentang kehidupan dan kematian yang dipetik dari sunah nabi) bernama Abu Abdillah Muhammad Bin Sulaiman Al Jazuli. Dalam perjalanannya, ketika waktu ashar, beliau tiba di suatu gurun yang sangat panas, suhunya kira-kira pada posisi 45°. Beliau melihat dikejauhan ada Oase yang dapat ditempuh setengah jam. “Bila sholat disini, maka harus tayamum dan tempatnya sangat panas” maka akhirnya memutuskan untuk sholat di oase. Beliau sadar betul, beliau itu siapa, Allah itu siapa, hidup untuk apa, tujuan kemana, jadi sebetulnya pengalamannya is Ok. Di Oase hampir 1 jam. Dilihatnya ditepi oase ada sumur, maka Beliau menuju ke sumur. Beliau mencari timba untuk wudhu. Tiba-tiba beliau dikejutkan dengan seorang ‘genduk’ (anak perempuan) berumur 5 tahun. Si Genduk bertanya ‘Lagi ngapain pak ?’. ‘Ini waktu ashar sudah masuk, dan aku mau wudhu, tapi timbanya tidak ada.’ ‘Ooo mau wudhu, kata si Genduk.’ Sesaat kemudian dengsn ‘umak-umik’ disedotnya b`nyu (air) dalam sumur tadi dan langsung mancur tibo ing ngarsane (keluar airnya dan diberikan kepada) Imanm Jazuli. Beliau sangat heran dan takjub. “Ya Bintah”, Nduk genduk,…rene’o (baca : Nak kesinilah). Apa lagi yang ingin kubantu ?’ kata si Genduk (perempuan kecil)’. Kepriye kok bisa nyedot banyu kuwi (mengambil air) kata Imam Jazuli? “Si Genduk bilang “Aku diajari abahku dari kecil untuk menyapa Rosulullah dengan sholawat.” Kalau ada apa-apa tinggal menyapa Rosulullah. Wajah Imam Jazuli seperti dipukul ambek Mike Tyson, mendengar jawaban Si Genduk. Imam Jazuli malu. ‘Aku kok kalah karo arek cilik si genduk iki (Aku merasa malu dengan si perempuan kecil ini). Dengan kata lain sholawatnya ‘si alim’ ora doyo yen ora menyatu karo rosulullah. Begitu terpukul…Imam Jazuli mengucapkan : Astagfirullah ya robb…astagfirullah ya habiballah. Kemudian beliam Imam Al Jazuli pulang ke rumah dan tidak keluar dari kamar selama 13 tahun untuk mengakses ke Rosulullah, dan tidak sedetikpun ingin lepas dari kebersamaan dengan Rosulullah, dan telurnya adalah Dalail Khoirot. Untuk melakukan Dalail Khoirot ini harus tergantung dengan azam (kesengajaan) dan niat. Kesengajaan dan niat untuk selalu bersama dan menyatu kepada Rosulullah, sehingga membaca Dalail Khoirot mesti dengan hati, dengan sense, karena rahmat allah terbesar adalah diturunkannya Rosulullah Muhammad kepada kita.

Saudara-saudarku,

Perjalanan aku dan kamu ora bakal ‘jetis’ (tidak ada daya) bila tanpa kebersamaan dengan rosulullah. Maka setiap kita membaca sholawat seharusnya dengan hati dengan sense, bukan membaca with no heart, no sense. Suatu ilmu yang tidak disertai dengan kedekatan dengan nabi…almost nothing.

Allah Allah Azis Allahb
Allah Allah Subhan Allah
Allah Allah Sulthon Allah

Wa min Allah At Taufiq Al Fatehah

Senin, 09 Juni 2014

Tidak Ada Dzikir Setelah Musyahadah

Apabila seorang murid memulai majelis dzikir sendirian hendaknya tidak diam lebih dahulu sebelum ia berhasil hilang (gaib) dari segala yang wujud di alam. Sebab disyariatkannya dzikir hanya sebagai sarana untuk bisa hadir bersama al-Haq Swt. Maka selama seorang murid masih menyaksikan sesuatu dari alam, berarti ia belum masuk ke hadirat al-Haq. Dan apabila ia sudah masuk ke hadirat dan hatinya juga hadir bersama al-Haq, maka pada saat ini hendaknya diam tanpa bicara. Sebab dzikir secara lafal tidak ada artinya lagi ketika bersamaan dengan kesaksian hamba terhadap al-Haq Swt. Bahkan andaikan hamba yang hadir dengan hatinya ini hendak berdzikir (menyebut) Allah dengan lisannya ia tidak akan sanggup berucap. Sebab hadirat ini hadirat yang penuh kewibawaan, keagungan, dan kebisuan.
Dalam sebagian kesempatan yang dilakukan al-Bashri, Allah Swt. berfirman: “Bilamana engkau belum melihat-Ku maka teruskan untuk selalu men yebut Nama-Ku, dan apabila telah melihatKu maka diamlah. Sebab Aku mensyariatkan kepadamu agar engkau selalu men yebut Nama-Ku hanyalah sebagai sarana (wasilah) untuk bisa hadir bersama-Ku. Karena sesungguhnya Nama-Ku tidak pernah memisahkan Aku.”
Saya pernah mendengar Tuan Guru Ali al-Murshifi berkata:
“Tidak akan terbukakan sesuatu dan anugerah Tuhan dalam hati seorang murid selama dalam pikiran dan hatinya masih berusaha menghadirkan sesuatu dan alam. Sebab terbukanya anugerah dalam hati hanyalah untuk orang yang telah menyaksikan al-Haq Swt. dengan hatinya dan hilang dan segala sesuatu selain al-Haq.”
Maka bisa diketahui, bahwa tidak sepantasnya seorang murid memutus majelis dzikir sebelum ia berhasil gaib (hilang) dari alam.
Sebab orang yang telah memutuskan diri dan majelis dzikir sebelum berhasil gaib maka seakan-akan tidak pernah mengingat Allah sedikit pun, dilihat dari buah yang dihasilkan dalam peningkatan spiritual, sekalipun hal itu sudah dicatat sebagai amal baik. Oleh karenanya, asy-Syibli mengatakan: “Barangsiapa mengingat (berdzikir) Allah secara hakikat maka ia akan lupa segala sesuatu yang ada di sekiranya.” Sementara itu al-Junaid mengatakan: “Barangsiapa menyaksikan makhluk maka tidak akan melihat al-Haq, dan barangsiapa menyaksikan al-Haq, maka tidak akan melihat makhluk kecuali ia termasuk orang yang sangat sempurna.”
Az-Zafi —rahimahullah— mengatakan: “Setiap dzikir yang waktunya tidak lama, ibarat makanan yang tidak bisa mengenyangkan.” Ia juga pernah mengatakan, “Diantara adab berdzikir, hendaknya orang yang berdzikir tidak diam lebih dahulu selama ia masih merasakan kenikmatan berdzikir. Dan apabila sudah merasakan kejenuhan maka adabnya adalah diam.” Demikian pula dimakruhkan (tidak disuka) makan lagi setelah ia merasa kenyang, dan melakukan shalat setelah kenyang yang bisa menghilangkan kekhusyu’an, kecuali setelah mencernanya dengan memperbanyak dzikir. Sebab anggota tubuh akan menjadi maksiat dengan tidak menghadap kepada Allah secara sempurna. Maka ibadah ini sama seperti ibadah orang yang dipaksa, sebagaimana tidak diterimanya keislaman seorang kafir dzimmi yang dipaksa memeluk Islam, maka demikian halnya dengan ibadah orang yang terpaksa.
APAKAH SEORANG MURID MENJADIKAN WIRID-NYA BERMACAM-MACAM?
Dari sini Nabi saw mensyariatkan bermacam-macam wirid untuk hamba. Maka barangsiapa merasa jenuh dengan suatu wirid, maka ia bisa pindah ke wirid lain, sekalipun wirid yang kedua ini kurang utama. Andaikan seorang hamba tidak memiliki kejenuhan, tentu Nabi tidak akan memberi benmacam-macam wirid, akan tetapi beliau hanya akan memberi satu wirid yang terus-menerus sebagaimana malaikat. Maka pahamilah!
KAPAN MURID MELIPAT KEDUDUKAN SPIRITUAL (MAQAMAT)-NYA?
Tuan Guru Ali al-Munshifi berkata: “Apabila seorang murid berdzikir kepada Tuhannya dengan penuh kegigihan, maka kedudukan spiritual (maqamat)-nya akan segera terlipat dan tidak terlalu lamban. Barangkali ia hanya akan menempuhnya dalam waktu satu jam apa yang biasanya ditempuh orang lain dalam waktu sebulan atau lebih.” Ia juga mengatakan: “Seorang salik (penempuh jalan Tuhan) yang berdzikir ibarat burung yang terbang bersungguh-sungguh untuk mencapai hadirat kedekatan. Sedangkan seorang salik yang tanpa bendzikir, ibarat orang lumpuh yang sesekali merangkak kemudian berhenti lagi, sementara jarak yang harus ditempuh sangat jauh. Barangkali orang yang menempuh perjalanan seperti ini akan menghabiskan seluruh usianya dan belum juga sampai pada tujuannya.”
Al-Junaid —rahimahullah— bila diminta seorang murid untuk mendoakannya, maka ia berkata: “Saya memohon kepada Allah agar Dia menunjukkan anda kepada-Nya melalui cara yang paling efektif.” Hal itu dilakukan agar api kejauhan akan segera padam, dan berharap bisa menyaksikan hadirat al-Haq Azza wa Jalla sekalipun hanya sekejap sebelum kematiannya.
Tuan Guru Ali al-Munshifi mengatakan: “Diantara adab para jamaah apabila berdzikir bersama guru maka mereka tidak boleh menerjang isyarat sang guru. Apabila sang guru memberi isyarat mereka untuk diam, maka hendaknya salah seorang dari mereka tidak meneruskan berdzikir, selagi perasaan inderawinya masih berfungsi. Sebab bila ia meneruskan berdzikir sementara ia belum bisa gaib dari para jamaah yang hadir maka dzikirnya adalah tindakan kemunafikan (riya’) yang tercampur dengan ketidaksopanan. Sebab seorang guru tidak akan berkata kepada mereka, ‘Diam!’ kecuali setelah minta izin kepada al-Haq Swt. akan hal itu dengan cara yang sudah dimaklumi di kalangan kaum sufi. Sedangkan melanggar izin dari al-Haq termasuk keluar dari adab, yang mengakibatkan murka.” — Dan hanya Allah Yang Mahatahu.

Tasawuf dalam Persepktif Filosufi Asy-Syadzily

Sebagaimana dijelaskan di atas, Sulthanul Auliya Abul Hasan Asy-Syadzily memiliki doktrin dan ajaran Tasawuf yang terkesan sangat kuat dalam menanamkan sebuah keyakinan. Tetapi, dibalik itu semua ada nilai-nilai “kemerdekaan” yang terkadang terkesan “liberal”. Tetapi juga tidak berarti, bahwa pandangan tentang kemerdekaan Sufi identik dengan liberalisme, dalam pengertian akademis modern. Bahkan juga bukan sebagaimana filsafat kebebasan yang ditelurkan oleh eksponen Yunani Kuno. juga bukan berarti bahwa Asy-Syadzili berdiri sendiri, tanpa memiliki kaitan dengan masa lampau, pandangan-pandangan para Sufi pendahulu. Dilihat dari Fatwa-fatwanya dan Hizb-hizb Asy-Syadzily, akan merefleksikan sebuah nilai-nilai luhur, betapa pun, produk-produk Fatwa-fatwa dan Hizb-hizbnya bukan muncul dari rangkaian tertib kefilsafatan itu sendiri. Tidak satu pun fakta dan data yang memberikan bukti-bukti bahwa wacana-wacana Asy-Syadzily, adalah sebagai produk sebuah Filsafat.
Pendekatan yang berbeda jauh antara dunia filsafat dan dunia Tasawuf, telah membentangkan jarak tiada tara, walau pun pada simpul-simpulnya dunia filsafat tidak bisa mengingkari betapa pendekatan Tasawuf merupakan ujung dan sekaligus pangkal dari kefilsafatan itu sendiri. Sebaliknya, logika-logika filsafat, betapa pun akhirnya harus berbanding terbalik dengan  logika Tasawuf, tetapi logika Tasawuf tetap memiliki logika-logika yang hampir beriringan dengan logika filsafat.
Jika logika-logika filsafat bermula dari skeptisisme yang kelak berakhir dengan keyakinan pada kesimpulannya, maka logika Tasawuf justru sebaliknya: bermula dari keyakinan, kemudian mengurai dalam tertib logika. Sesuatu hal yang dianggap mustahil oleh dunia filsafat itu sendiri, bagaimana sebuah kesimpulan muncul tanpa adanya rangkaian logika yang membimbing ke arah kesimpulan. Tetapi logika Tasawuf juga menganggap “aneh” adanya logika filsafat, sebab  pada “hakikatnya” sebelum seseorang membangun sebuah premis, sudah tergambar secara metafisis kesimpulan-kesimpulannya, karena keyakinan itu lebih dahulu ada, sebelum keraguan tiba.
Jadi, menyimpulkan secara filosofis seluruh paradigma Syadzilian, lebih sebagai penguraian komprehensif, mengingat —sekali pun Asy-Syadzily secara akademis juga menelaah karya-karya Tasawuf pendahulunya, dan bahkan juga telaah terhadap karya filsafat dan laboratorium ilmu pengetahuan— pandangan Asy-Syadzily bersifat supra-intuitif. Dengan demikian, pembuktian akademis akan senantiasa dihantarkan pada kompromi metodologis, antara khazanah filsafat dengan khazanah Sufistik itu sendiri.
Dalam perspektif inilah  ada sejumlah pendekatan, khususnya jika atmosfir kefilsafatan memandang seluruh paradigma Syadzilian, untuk kepentingan kajian filosofis itu sendiri:
Pertama, hubungan doktrin Tasawuf Asy-Syadzily dengan para Sufi besar generasi sebelumnya, serta munculnya gerakan filsafat dalam dunia Islam saat itu.
Kedua, sejauh mana pandangan-pandangan Asy-Syadzili bersinggungan dengan pandangan-pandangan Sufi lain, terutama para Sufi yang melahirkan sejumlah pemikiran orisinil.Ketiga, posisi Asy-Syadzily dalam membangun sebuah “Bangunan Tasawuf” dan kelak menjadi gerakan terorganisir hingga saat ini.Keempat, kualifikasi Asy-Syadzily dalam jajaran para pembangun filsafat di dunia Islam.Kelima, klasifikasi pandangan Asy-Syadzili:- Pandangan tentang keimanan dan keyakinan terhadap Allah Swt.- Pandangan tentang Maqamat dan Haal.- Pandangan yang tersembunyi dibalik doa-doa maupun Hizb-hizbnya.
Asy-Syadzili dengan Para Sufi
Sebagaimana dijelaskan di atas, sejumlah rujukan Kitab karya para Sufi yang seringkali digunakan oleh Asy-Syadzili, dan para guru yang berpengaruh dalam membentuk kerpibadian Asy-Syadzili, merupakan tema yang sangat urgen untuk menlihat sejauhmana pandangan Asy-Syadzili itu terbentuk. Sebab banyak sekali pandangan Asy-Syadzily yang tidak tertuang di dalam Kitab-kitab para Sufi itu, baik secara terminologi maupun epitemologis, bahkan sampai pada tahap ontologisnya.
Dari para Sufi pendahulu, misalnya tercatat, —dari berbagai sumber yang ada— antara lain:
Abu Abdullah ibnu Harazim, seorang Wali besar yang saleh, salah satu Mursyid di Andalusia dan Maroko. Ia merupakan salah satu murid Sufi besar, Abu Madyan al-Ghauts, murid Abdul Qadir al-Jilany. Abu Madyan juga salah satu muridnya ayahanda Abu Abdullah, yaitu Abul Hasan. Tetapi Ibnu Harazim tidak mengambil pelajaran dari ayahnya sendiri. Ibnu Harazim inilah guru Sufi pertama kali yang dijadikan sebagai pembimbing  Asy-Syadzily, sebelum beliau pindah ke Tunisia. Tahun 633 H. Ibnu Harazim wafat di Marokko, dimana makamnya hingga detik ini diziarahi oleh para Sufi dan ummat Islam. Abu Madyan al-Ghauts juga memiliki sebuah karya kitab yang terkenal, “Al-Hikam” yang tentu saja beda dengan Al-Hikamnya Ibnu Athaillah as-Sakandary. Abu Madyan juga memiliki seorang murid besar yang sangat luar biasa, Ibnu Araby dengan ratusan karya kitab Tasawuf, terutama yang sangat terkenal, Al-Futuhatul Makkiyah dan Fushusul Hikam.
Abu Sa’id al-Bajy. Nama sebenarnya adalah Khalaf bin Yahya at-Tamimy dari penduduk Bajah, seorang Sufi besar di zamannya, dan poluler sebagai Wali di Tunisia. Abu Sa’id juga salah satu murid Abu Madyan al-Ghauts. Kata Abul Hasan Asy-Syadzili, “Ketika aku memasuki kota Tunisia, pada mula aku menempuh jalan Sufi, saya memasuki akademi para Syeikh. Ada sesatu yang saya cintai di sana, dan masing-masing Syeikh itu menjelaskan kebaikan padaku. Bahkan ada yang menjelaskan tentang kondisi ruhaniku. Sampai akhirnya aku memasuki Syeikh Abu Sa’id al-Bajy ra, ia menjelaskan tentang kondisi ruhaniku sebelum aku menjelaskannya, dan ia membicarakan tentang rahasiaku. Saya akhirnya tahu bahwa Syeikh ini adalah Wali Allah. Saya akhirnya belajar padanya dan mengambil banyak manfaat darinya.”
Abu Muhammad al-Mahdawy, yaitu Abu Muhammad bin Abu Bakr  al-Mahdawy, seorang Syiekh Sufi, berpenduduk di Mahdiya Tunisia. Mendapatkan ajaran Thariqat dari Abu Madyan. Al-Mahdawy juga dipuji oleh Ibnu Araby, dalam Ar-Risalah al-Qudsiyah, dan wafat, tahun 621 H.
Ada pula yang mengatakan, Asy-Syadzily sempat bertemu dengan Ibnu Araby, yaitu Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Abdullah  al-Hatimy at-Tha’y yang bergelar sebagai Syeikhul Akbar. Ibnu Araby juga mendapatkan Thariqat dari Abu Madyan. Tetapi sumber-sumber yang menjelaskan bahwa Asy-Syadzily pernah belajar kepada Ibnu Araby masih diperselisihkan.
Abul Fath al-Wasithy, yaitu Muhammad Abul Ghaim al-Wasithy, salah satu murid Sayyid Ahmad Rifai’y. “Aku masuk kota Irak, saya temui sejumlah Syeikh Sufi, dan saya tidak menemui yang lebih hebat ketimbang Abul Fath al-Wasithy.  Ketika aku mencari siapa yang menjadi Qutub, ia berkata padaku, “Apakah Anda mencari Wali Qutub di Irak, padahal ia ada di negerimu Marokko? Kembalilah ke Marokko, akan Anda temui Qutub di sana.” Lantas aku kembali ke Marokko dan aku bertemu dengan guruku, Abdussalam bin Masyisy,” kata Asy-Syadzily.
Abdus Salam bin Masyisy. Yaitu  Abu Muhammad  dan Abu Abdullah Abdissalam bin Masyisyi, salah satu Qutub Agung yang nasabnya juga bertemu pada nasab Asy-Syadzili pada jalur Idris. Abdussalam bin Masyisyis inilah yang berpengaruh besar dalam kepribadian Asy-Syadzily sekaligus melimpahkan kemursyidan Thariqat Syadziliyah pada Abul Hasan asy-Syadzily. Abdus Salam bin Masyisys, adalah murid dari  Syeikh Abdurrahman al-Hasany al-Madany, yang punya jalur juga dari Abu Madyan al-Ghauts, tetapi mendapatkan Thariqatnya dari Qutbul Auliya’ Taqyuddin al-Fuqair ash-Shufy.
Hampir seluruh pandangan asy-Syadzily bersifat Ilhamy. Kalau toh ada tali yang kait mengait dengan pandangan para Sufi pendahulunya, semata sebagai pijakan awal. Selanjutnya muncullah filosufi khusus yang merupakan pandangan Asy-Syadzili itu sendiri, lebih sebagai penyempurna atas paradigma pendahulunya.
Hal demikian terletak pada kedalaman fatwa-fatwanya, dan ajarannya yang disampaikan pada para pengikutnya. Terkadang di satu sisi, pandangannya mirip dengan Ibnu Araby, di sisi lain mirip Abdul Qadir Jailany, namun di pihak lain juga relevan dengan Ar-Rifa’y maupun Abu Madyan al-Ghauts.
Selama ini pandangan-pandangan Sufi pendahulu Asy-Syadzily sempat dituduh sebagai Filsafat yang pantheistik, mengingat adanya sejumlah istilah yang sangat sulit difahami akal rasional, tetapi hanya bisa difahami oleh akal hati. Sejumlah tragedi yang kemudian menimpa para Sufi besar seperti pada Abu Mansur Al-Hallaj, semata karena munculnya kebodohan dan kecemburuan terhadap waca-waca yang lahir dari Al-Hallaj. Padahal murid Al-Junaid al-Baghdady ini, pandangan-pandangannya juga tidak menyimpang dari pandangan  Al-Junayd sendiri, terutama jika kita lihat dari Rasailul Junaid (Surat-surat Al-Junayd). Kelak beberapa abad kemudian, muncul Ibnu Araby yang sangat menggetarkan dunia teologi Islam, karena kehebatan eksplorasi batiniyahnya yang tidak bisa diikuti oleh kaum filosuf, kaum fuqaha’ maupun ahli hadits, terutama pengikut Ibnu Taymiyah yang mewarisi Neo-Hambalian formalis. Mereka ini menuduh pandangan Ibnu Araby sebagai pandangan yang menyesatkan, karena dituding menganut pantheisme Wahdatul Wujud (Kesatuan Wujud).
Cara pandang Ibnu Taymiyah ini pun akhirnya berkembang di abad-abad kemudian, dimana anggapan Wahdatul Wujud sebagai klaim yang bisa ditudingkan pada para Sufi, khususnya Ibnu Araby.
Padahal memandang seluruh ungkapan Ibnu Araby, hingga Al-Hallaj, Al-Ghazali, Al-Junayd, Al-Bisthamy sebagai pandangan Wahdatul Wujud sebagai pandangan yang salah dan sangat dangkal. Hal yang sama ketika membaca fatwa-fatwa Asy-Syadzily maupun para pengikutnya, terutama Ibnu Athaillah as-Sakandary, jika sepintas dengan hanya menggunakan pendekatan filosofis belaka, akan menyimpulkan pandangan yang sama: menuduh mereka sebagai penerus Wahdatul Wujud. Seluruh eksponen Sufi, sama sekali tidak pernah menyebut apalagi membangun istilah Wahdatul Wujud, kecuali hanya para penentangnya maupun para pengamat sepintas belaka.
Bahkan secara ironi sejumlah pengamat filsafat dari kalangan ummat Islam, seperti Afifi, Zakky Mubarak, dan senagkatannya, juga menilai pandangan Ibnu Araby dkk, sebagai pandangan Wahdatul Wujud. Sekali lagi karena mereka menggunakan metodologi rasionalisme murni untuk mendekati Ontologi para Sufi itu. Padahal untuk memahami perspektif-perspektif kedalaman Sufi tidak cukup dengan sekadar mengolah logika-logika Tasawuf untuk kesimpulannya. Tetapi, haruslah memasuki kedalamannya melalui amaliyahnya.
Kalau toh pun harus dinyatakan dalam wacana filosofis, makna Wahdatul Wujud, bukanlah Bersatunya Wujud, atau Manunggalnya Wujud, Tetapi Wahdatul Wujud makanya adalah Satu-Satunya Yang Wujud. Ini baru dibenarkan.
Atau makna Wahdah disana yang bersatu adalah Syuhudnya, (Penyaksian Jiwanya) bukan Wujudnya. Seperti Syuhudul Wahdah fil Katsroh (Memandang Satu-satunya dalam keragaman) atau Syuhudul Katsroh fil Wahdah (Memandang keragaman dalam Satu-satuNya).
Sebab bagi para Sufi, Ilmu itu datangnya setelah amal. Bukan sebaliknya, ilmu dulu baru beramal. Dalam Al-Qur’an dijelaskan, “Fas’aluu ahladzdzikri in kuntum laa ta’lamuun.” (Bertanyalah kepada ahli dzikir manakala engkau tidak mengetahui).”

Senin, 02 Juni 2014

SULUK SYEIKH JANGKUNG



Sebelum ke Suluknya ada baiknya kita ketahui siapa itu Syeikh Jangkung, beliau bernama asli Saridin, termasuk para pemerhati sufi. Bila ingin melihat jejak masa lalu, silakan mengunjungi makamnya yang terletak di Desa Landoh, Kecamatan Kayen yang berjarak sekitar 17 kilometer dari Kota Pati menuju Kabupaten Purwodadi. Untuk mencapai lokasi, pengunjung harus melewati jalan perkampungan yang sudah beraspal.
Setiap hari Jumat, makam tersebut dipadati pengunjung dari sejumlah daerah di tanah air, seperti dari Jateng, Jatim, Jabar, dan Sumatera. Bahkan, ada pengunjung yang berasal dari Negara Malaysia dan Singapura.
Upacara haul (hari lahir) dilaksanakan setiap tanggal 14 dan 15 bulan Rajab yang dimulai dengan upacara ganti kelambu, pengajian, dan pasar malam.
Menurut sejarahnya, Saridin (Syeh Jangkung) dilahirkan di Desa Tayu, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati. Setelah dewasa berkelana ke sejumlah daerah di pulau jawa, bahkan sampai di Sumatera untuk menyebarkan Agama Islam.

Waktu masih hidup, dia berwasiat agar dimakamkan di Desa Landon.
Di kompleks Makam Saridin terdapat pula makam isterinya, yakni RA Retno Jinoli dan RA Pandan Arum.
Inilah suluk nya :
MUQADIMAH
Bismillah, wengi iki ingsung madep, ngawiti murih pakerti, pakertining budi kang fitri, sujud ingsun, ing ngarsané Dzat Kang Maha Suci.

Artinya :
Bismillah, malam ini hamba menghadap, mengawali meraih hikmah/ hikmah budi yang suci, hamba bersujud, di hadapan Keagungan Yang Mahasuci.
Bismillah ar-rahman ar-rahim, rabu mbengi, malam kamis, tanggal lima las, wulan poso, posoning ati ngilangi fitnah, posoning rogo ngeker tingkah.

Artinya :
Bismillâh ar-Rahmân ar-Rahîm, Rabu malam Kamis, tanggal 15 bulan Ramadhan, puasa hati menghilangkan fitnah, puasa raga mencegah tingkah buruk.
Bismillah, dhuh Pangeran Kang Maha Suci, niat ingsun ndalu niki, kawula kang ngawiti, nulis serat kang ingsun arani, serat Hidayat Bahrul Qalbi, anggayuh Sangkan Paraning Dumadi.

Artinya :
Bismillâh, wahai Tuhan Yang Mahasuci, niat hamba malam ini, hamba yang mengawali, menulis surat yang dinamai, surat Hidayat Bahrul Qalbi, untuk memahami asal tujuan hidup ini.
Bismillah, dhuh Pangeran mugi hanebihna, saking nafsu ingsun iki, kang nistha sipatipun, tansah ngajak ing laku drengki, ngedohi perkawis kang wigati.

Artinya :
Bismillâh, wahai Tuhan semoga Engkau menjauhkan, dari nafsu hamba ini, yang buruk sifatnya, senantiasa mengajak berlaku dengki, menjauhi perkara yang baik.
Bismillah, kanthi nyebut asmaning Allah, Dzat ingkang Maha Welas, Dzat ingkang Maha Asih, kawula nyenyuwun, kanthi tawasul marang Gusti Rasul, Rasul kang aran Nur Muhammad, mugiya kerso paring sapangat, kanthi pambuka ummul kitab.

Artinya :
Bismillâh, dengan menyebut nama Allah, Dzat Yang Maha Pengasih, Dzat Yang Maha Penyayang, hamba memohon, melalui perantara Rasul, Rasul yang bernama Nur Muhammad, semoga berkenan memberi syafaat, dengan pembukaan membaca ummul kitab.
Sun tulis kersaneng rasa, rasaning wong tanah Jawa, sun tulis kersaneng ati, atining jiwa kang Jawi, ati kang suci, tanda urip kang sejati, sun tulis kersaning agami, ageming diri ingkang suci.

Artinya :
Hamba tulis karena rasa, perasaan orang tanah Jawa, hamba tulis karena hati, hati dari jiwa yang keluar, hati yang suci, tanda hidup yang sejati, hamba tulis karena agama, pegangan diri yang suci.
Kang tinulis dudu ajaran, kang tinulis dudu tuntunan, iki serat sakdermo mahami, opo kang sinebut ing Kitab Suci, iki serat amung mangerteni, tindak lampahé Kanjeng Nabi.

Artinya :
Yang tertulis bukan ajaran, yang tertulis bukan tuntunan, surat ini sekadar memahami, apa yang tersebut dalam Kitab Suci, surat ini sekadar mengetahui, perilaku hidup Kanjeng Nabi.
Apa kang ana ing serat iki, mong rasa sedehing ati, ati kang tanpa doyo, mirsani tindak lampahing konco, ingkang tebih saking budi, budining rasa kamanungsan, sirna ilang apa kang dadi tuntunan.

Artinya :
Apa yang ada di surat ini, hanya rasa kesedihan hati, hati yang tiada berdaya, melihat sikap perilaku saudara, yang jauh dari budi, budi rasa kemanusiaan, hilang sudah apa yang menjadi tuntunan.
Mugi-mugi dadiho pitutur, marang awak déwé ingsun, syukur nyumrambahi para sadulur, nyoto iku dadi sesuwun, ing ngarsane Dzat Kang Luhur.

Artinya :
Semoga menjadi petunjuk, terhadap diri hamba sendiri, syukur bisa berguna untuk sesama, itulah yang menjadi permohonan, di hadapan Dzat Yang Mahaagung.
01. SYARIAT
Mangertiyo sira kabéh, narimoho kanthi saréh, opo kang dadi toto lan aturan, opo kang dadi pinesténan, anggoning ngabdi marang Pangeran.

Artinya :
Mengertilah kalian semua, terimalah dengan segala kerendahan jiwa, terimalah dengan tulus dan rela, apa yang menjadi ketetapan dan aturan, apa yang telah digariskan, untuk mengabdi pada Keagungan Tuhan.
Basa sarak istilah ‘Arbi, tedah isarat urip niki, mulo kénging nampik milih, pundhi ingkang dipun lampahi, anggoning ngabdi marang Ilahi.

Artinya :
Istilah syarak adalah bahasa Arab, yang berarti petunjuk atau pedoman untuk menjalani kehidupan ‘agama’, untuk itulah diperbolehkan memilih, mana yang akan dijalani sesuai dengan kemampuan diri, guna mengabdi pada Keagungan Ilahi.
Saréngat iku tan ora keno, tininggal selagi kuwoso, ageming diri kang wigati, cecekelan maring kitab suci, amrih murih rahmating Gusti.

Artinya :
Apa yang telah di-syari‘at-kan hendaknya jangan kita tinggal, selama diri ini mampu untuk menjalankan, aturan yang menjadi pegangan hidup kita, aturan yang sudah dijelaskan dalam kitab suci al-Qur’an, Itu semua, tidak lain hanya usaha kita untuk mendapat rahmat, dan pengampunan dari Yang Maha Kuasa.
Saréngat iku keno dén aran, patemoné badan lawan lésan, ono maneh kang pepiling, sareh anggoné kidmat, nyembah ngabdi marang Dzat.

Artinya :
Syariat juga diartikan, sebuah pertemuan antara badan dengan lisan, bertemunya raga dengan apa yang dikata, ada juga yang memberi pengertian, bahwa syariat adalah pasrah dalam berkhidmat, menyembah dan mengabdi pada Keagungan Yang Mahasuci.

Saréngat utawi sembah raga iku, pakartining wong amagang laku, sesucine asarana saking warih,
kang wus lumrah limang wektu, wantu wataking wawaton.

Artinya :
Syari`at atau Sembah Raga itu, merupakan tahap persiapan, di mana seseorang harus melewati proses pembersihan diri, dengan cara mengikuti peraturan-peraturan yang ada, dan yang sudah ditentukan
—rukun Islam.
Mulo iling-ilingo kang tinebut iki, sadat, sholat kanthi kidmat, zakat bondo lawan badan, poso sak jroning wulan ramadhan, tinemu haji pinongko mampu, ngudi luhuring budi kang estu.

Artinya :
Maka ingat-ingatlah apa yang tersebut di bawah ini, syahadat dengan penuh keihklasan, shalat dengan khusuk dan penuh ketakdhiman, mengeluarkan zakat harta dan badan untuk sesame, puasa pada bulan ramadhan atas nama pengabdian pada Tuhan, menunaikan ibadah haji untuk meraih kehalusan budi pekerti.
Limo cukup tan kurang, dadi rukune agami Islam, wajib kagem ingkang baligh, ngaqil, eling tur kinarasan, menawi lali ugi nyauri.

Artinya :
Lima sudah tersebut tidak kurang, menjadi ketetapan sebagai rukun Islam, wajib dilakukan bagi orang ‘Islam’ yang sudah baligh, berakal, tidak gila dan sehat, adapun, jika lupa menjalankan hendaknya diganti pada waktu yang lain.
Syaringat ugi kawastanan, laku sembah mawi badan, sembah suci maring Hyang, Hyang ingkang nyipto alam, sembahyang tinemu pungkasan.

Artinya :
Syariat juga dinamakan, melakukan penyembahan dengan menggunakan anggota badan, menyembah pada Keagungan Tuhan, Tuhan yang menciptakan alam, Sembah Hyang, begitu kiranya nama yang diberikan.
SYAHADAT
Sampun dados pengawitan, tiyang ingkang mlebet Islam, anyekseni wujuding Pangeran, mahos sadat kanthi temenan, madep-manteb ananing iman.

Artinya :
Sudah menjadi pembukaan, bagi orang yang ingin masuk Islam, bersaksi akan wujudnya Tuhan, bersungguh-sungguh membaca syahadat, disertai ketetapan hati untuk beriman.
Asyhadu an-lâ ilâha illâ Allâh wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah, Tinucapo mawi lisan, Sareh legowo tanpa pameksan, Mlebet wonten njroning ati, Dadiho pusoko anggoning ngabdi.

Artinya :
Asyhadu an-lâ ilâha illâ Allâh wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah, ucapkanlah dengan lisan, penuh kesadaran tanpa paksaan, masukkan maknanya ke dalam hati, semoga menjadi pusaka untuk terus mengabdi.
Tan ana Pangeran, kang wajib dén sembah, kejawi amung Gusti Allah, semanten ugi Rasul Muhammad, kang dadi lantaran pitulungé umat.

Artinya :
Hamba bersaksi bahwa tak ada tuhan, yang wajib disembah, kecuali Allah swt, begitu pula dengan Nabi Agung Muhammad saw, yang menjadi perantara pertolongan umat.
SHALAT
Syarat limo ajo lali, kadas najis, badan kedah suci, nutup aurat kanti kiat, jumeneng panggonan mboten mlarat, ngerti wektu madep kiblat, sampurno ingkang dipun serat.

Artinya :
Lima syarat jangan lupa, badan harus suci dari hadats dan najis, menutup aurat jika tidak kesulitan, dilaksanakan di tempat yang suci, mengerti waktu untuk melakukan shalat, lalu menghadap kiblat, sempurna sudah yang ditulis.
Wolu las kang dadi mufakat, rukun sahe nglakoni shalat, niat nejo, ngadek ingkang kiat, takbir banjur mahos surat, al-fatihah ampun ngantos lepat.

Artinya :
Delapan belas yang menjadi mufakat, rukun sahnya menjalankan shalat, niat melakukan shalat, berdiri bagi kita yang mampu, mengucapkan takbiratul ikhram membaca surat, al-Fatichah jangan sampai keliru.
Rukuk, tumakninah banjur ngadek, aran iktidal kanti jejek, tumakninah semanten ugi, banjur sujud tumurun ing bumi, sareng tumakninah ingkang mesti, kinaranan ing tumakninah, meneng sedelok sak wuse obah.

Artinya :
Rukuk dengan tenang lalu berdiri, disebut i’tidal dengan tegap, hendaknya juga tenang seperti rukuk, lalu sujud turun ke bumi, bersama thumakninah yang benar, dinamakan thumakninah, diam sebentar setelah bergerak.

Sewelas iku lungguh, antarane rong sujudan, tumuli tumakninah, kaping telulas lungguh akhir,
banjur maos pamuji dikir.

Artinya :
Sebelas itu duduk, di antara dua sujud, disertai thumakninah, tiga belas duduk akhir, lalu membaca pujian dzikir.

Limolas iku moco sholawat, kagem Gusti Rosul Muhammad, tumuli salam kang kawitan,
sertane niat rampungan, tertib sempurna dadi pungkasan.

Artinya :
Lima belas membaca shalawat, kepada Rasul Muhammad, kemudian salam yang pertama, bersama niat keluar shalat, tertib menjadi kesempurnaan.
ZAKAT
Zakat iku wus dadi prentah, den lampahi setahun pindah, tumprap wong kang rijkine torah, supados bersih awak lan bondo, ojo pisan-pisan awak déwé leno.

Artinya :
Zakat sudah menjadi perintah, dilakukan setahun sekali, bagi orang yang hartanya berlimpah, supa bersih raga dan harta, jangan sekali-kali kita lupa.
Umume wong dho ngenthoni, malem bodho idul fitri, zakat firah den arani, bersihaké badan lawan ati, zakat maal ugo mengkono, nanging kaprahing dho orak lélo.

Artinya :
Umumnya orang mengeluarkan, malam Hari Raya Idul Fitri, zakat fitrah dinamai, membersihkan raga dan hati, zakat harta juga begitu, namun umumnya pada tidak rela.
Ampun supé niating ati, nglakoni rukun pardune agami, lillahi ta`ala iku krentekno, amrih murih ridaning Gusti, supados dadi abdi kang mulyo.

Artinya :
Jangan lupa niat di hati, menjalankan rukun fradhunya agama, karena Allah tanamkanlah, untuk mendapat keridhaan-Nya, supaya menjadi hamba yang mulia.

PUASA
Islam, balék, kiat, ngakal, papat sampun kinebatan, wonten maleh ingkang lintu, Islam, balék lawan ngakal, dados sarat nglampahi siam.

Artinya :
Islam, baligh, kuat, berakal, empat sudah disebutkan, ada juga yang mengatakan, Islam, baligh, dan berakal, menjadi syarat menjalankan puasa.
Kados sarat rukun ugi sami, kedah dilampai kanthi wigati, niat ikhlas jroning ati, cegah dahar lawan ngombé, nejo jimak kaping teluné, mutah-mutah kang digawé.

Artinya :
Seperti syarat, rukun juga sama, harus dijalanlan dengan hati-hati, niat ikhlas di dalam hati, mencegah makan dan minum, jangan bersetubuh nomor tiga, jangan memuntahkan sesuatu karena sengaja.
Papat jangkep sampun cekap, dadus sarat rukuné pasa, ngatos-ngatos ampun léna, mugiyo hasil ingkang dipun seja, tentreming ati urip kang mulya.

Artinya :
Empat genap sudah cukup, menjadi syarat rukunnya puasa, hati-hati jangan terlena, semoga berhasil apa yang diinginkan, tentramnya hati hidup dengan mulia.
HAJI

Limo akhir dadi kasampurnan, ngelampahi rukun parduné Islam, bidal zaroh ing tanah mekah,
menawi kiat bandane torah, lego manah tinggal pitnah kamanungsan.

Artinya :
Lima terakhir menjadi kesempurnaan, menjalankan rukun fardhunya Islam, pergi ziarah ke tanah Makah, jika kuat dan hartanya berlimpah, hati rela menjauhi fitnah kemanusiaan.
Pitu dadi sepakatan, sarat kaji kang temenan, Islam, balik, ngakal, merdeka, ananing banda lawan sarana, aman dalan sertané panggonan.

Artinya :
Tujuh jadi kesepakatan, syarat haji yang betulan, Islam, baligh, berakal, merdeka, adanya harta dan sarana, aman jalan beserta tempat.
Ikram sertané niat, dadi rukun kang kawitan, wukuf anteng ing ngaropah, towaf mlaku ngubengi kakbah, limo sangi ojo lali, sopa marwah pitu bola-bali.

Artinya :
Ikhram beserta niat, menjadi rukun yang pertama, thawaf berjalan mengelilingi ka‘bah, lima sa’i jangan lupa, safa-marwah tujuh kali.
02. THARIQAT
Muji sukur Dzat Kang Rahman, tarékat iku sak dermo dalan, panemoné lisan ing pikiran, nimbang nanting lawan heneng, bener luputé sira kanthi héling.

Artinya :
Puji syukur Dzat Yang Penyayang, tarekat hanyalah sekadar jalan, bertemunya ucapan dalam pikiran, menimbang memilih dengan tenang, benar tidaknya engkau dengan penuh kesadaran.
Tarékat ugi kawastanan, sembah cipto kang temenan, nyegah nafsu kang ngambra-ambra, ngedohi sipat durangkara, srah lampah ing Bathara.

Artinya :
Tarekat juga dinamakan, sembah cipta yang sebenarnya, mencegah nafsu yang merajalela, menjauhi sifat keburukan, berserah di hadapan Tuhan.
Semanten ugi aweh pitutur, makna tarékat ingkang luhur, den serupaaken kados segoro, minongko saréngat dadus perahu, kang tinemu mawi ngélmu.

Artinya :
Kiranya juga memberi penuturan, makna tarekat yang luhur, diibaratkan laksana samudera, dengan syariat sebagai perahunya, yang ditemukan dengan ilmu.
Mila ampun ngantos luput, dingin nglampahi saréngat, tumuli tarékat menawi kiat, namung kaprahé piyambak niki, supe anggenipun ngawiti.

Artinya :
Maka jangan sampai keliru, mendahulukan menjalani syariat, kemudian tarekat jika mampu, namun umumnya kita ini, lupa saat memulai.
Mila saksampunipun, dalem sawek sesuwunan, mugiya tansah pinaringan, jembaring dalan kanugrahan, rahmat welas asihing Pangeran.

Artinya :
Maka setelahnya, hamba senantiasa memohon, semoga terus mendapat, lapangnya jalan anugerah, cinta dan kasih sayang Tuhan.
SYAHADAT
Lamuno sampun kinucapan, rong sadat kanthi iman, kaleh puniko dereng nyekapi, kangge ngudari budi pekerti, basuh resék sucining ati.

Artinya :
Jika sudah diucapkan, dua syahadat dengan iman, dua ini belumlah cukup, untuk mengurai budi pekerti, membasuh bersih sucinya hati.
Prayuginipun ugi mangertosi, sifat Agungé Hyang Widhi, kaleh doso gampil dipun éngeti, wujud, kidam lawan baqa, mukalapah lil kawadisi.

Artinya :
Seyogyanya juga mengerti, sifat Keagungan Tuhan, dua puluh mudah dimengerti, wujud, qidam, dan baqa, mukhalafah lil hawâdis.

Limo qiyam binafsihi, wahdaniyat, kodrat, irodat, songo ilmu doso hayat, samak basar lawan kalam,
pat belas iku aran kadiran.

Artinya :
Lima qiyâmuhu bi nanafsihi, wahdaniyat, qodrat, iradat, sembilan ilmu, sepuluh hayat, sama&lsquo, bashar, kalam, empat belas qadiran.
Muridan kaping limolas, aliman, hayan pitulasé, lawan samian ampun supé, banjur basiron madep manteb, mutakalliman ingkang tetep.

Artinya :
Muridan nomor lima belas, aliman, hayan nomor tujuh belas, kemudian samian jangan lupa, terus bashiran dengan mantab, mutakalliman yang tetap.
Nuli papat kinanggitan, dadi sifat mulyané utusan, sidik, tablik ora mungkur, patonah sabar kanthi srah, anteng-meneng teteping amanah.

Artinya :
Kemudian empat disebutkan, menjadi sifat kemuliaan utusan, sidiq, tabligh tidak mundur, fathanah sabar dengan berserah, diam tenang bersama amanah.
Kaleh doso sampun kasebat, mugiyo angsal nikmating rahmat, tambah sekawan tansah ingeti, dadiho dalan sucining ati, ngertosi sir Hyang Widhi.

Artinya :
Dua puluh sudah disebut, semoga mendapat nikmatnya rahmat, ditambah empat teruslah ingat, jadilah jalan mensucikan hati, mengetahui rahasia Yang Mahasuci.
SHALAT
Limang waktu dipun pesti, nyekel ngegem sucining agami, agami budi kang nami Islam, rasul Muhammad dadi lantaran, tumurune sapangat, rahmat lan salam.

Artinya :
Lima waktu sudah pasti, memegang kesucian agama, agama budi yang bernama Islam, rasul Muhammad yang menjadi perantara, turunnya pertolongan, rahmat, dan keselamatan.
Rino wengi ojo nganti lali, menawi kiat anggoné nglampahi, kronten salat dadi tondo, tulus iklasing manah kito, nyepeng agami tanpo pamekso.

Artinya :
Siang malam jangan lupa, jika kuat dalam menjalani, karena shalat menjadi tanda, tulus ikhlasnya hati kita, mengikuti agama tanpa dipaksa.
Ngisak, subuh kanthi tuwuh, tumuli luhur lawan asar, dumugi maghrib ampun kesasar, lumampahano srah lan sabar, jangkep gangsal unénan Islam.

Artinya :
Isyak, Shubuh dengan penuh, kemudian Luhur dan Ashar, sampai Maghrib jangan kesasar, jalanilah dengan pasrah dan sabar, genap lima disebut Islam.
Kanthi nyebut asmané Allah, Sak niki kita badé milai, ngudari makna ingkang wigati, makna saéstu limang wektu, pramila ingsun sesuwunan, tambahing dungo panjengan.

Artinya :
Dengan menyebut nama Allah, sekarang kita akan mulai, mengurai makna yang tersembunyi, makna sesungguhnya lima waktu, karenanya hamba memohon, tambahnya doa Anda sekalian.
ISYAK
Sun kawiti lawan ngisak, wektu peteng jroning awak, mengi kinancan cahya wulan, sartané lintang tambah padang, madangi petengé dalan.

Artinya :
Hamba mulai dengan isyak, waktu gelap dalam jiwa, malam bersama cahaya bulan, bersanding bintang bertambah terang, menerangi gelapnya jalan.

Semono ugi awak nira, wonten jroning rahim ibu, dewekan tanpa konco, amung cahyo welasing Gusti,
ingkang tansah angrencangi.

Artinya :
Seperti itu jasad kamu, di dalam rahim seorang ibu, sendirian tanpa teman, hanya cahaya kasih Tuhan, yang senantiasa menemani.
SHUBUH

Tumuli subuh sak wusé fajar, banjur serngéngé metu mak byar, padang jinglang sedanten kahanan,
sami guyu awak kinarasan, lumampah ngudi panguripan.

Artinya :
Kemudian shubuh setelah fajar, lalu matahari keluar bersinar, terang benderang semua keadaan, bersama tertawa badan sehat, berjalan mencari kehidupan.

Duh sedulur mangertiya, iku dadi tanda lahiring sira, lahir saking jroning batin, batin ingkang luhur,
batin ingkang agung.

Artinya :
Wahai saudara mengertilah, itu menjadi tanda kelahiranmu, lahir dari dalam batin, batin yang luhur, batin yang agung.
DHUHUR

Luhur teranging awan, tumancep duwuring bun-bunan, panas siro ngraosaké, tibaning cahyo serngéngé,
lérén sedélok gonmu agawé.

Artinya :
Zhuhur terangnya siang, menancap di atas ubun-ubun, panas kiranya kau rasakan, jatuhnya cahaya matahari, berhenti sebentar dalam bekerja.
Semono ugo podho gatékno, lumampahing umur siro, awet cilik tumeko gedé, tibaning akal biso mbedakké, becik lan olo kelakuné.

Artinya :
Seperti itu juga pahamilah, perjalanan hidup kamu, dari kecil hingga dewasa, saat akal bisa membedakan, baik dan buruk perbuatanmu.
ASHAR
Ngasar sak durungé surup, ati-ati noto ing ati, cawésno opo kang dadi kekarep, ojo kesusu ngonmu lumaku, sakdermo buru howo nepsu.

Artinya :
Ashar sebelum terbenam, hati-hatilah menata hati, persiapkan apa yang menjadi keinginan, jangan tergesa-gesa kamu berjalan, hanya sekadar menuruti hawa nafsu.
Mulo podho waspadaha, dho dijogo agemaning jiwa, yo ngéné iki kang aran urip, cilik, gedé tumeko tuwo, bisoho siro ngrumangsani, ojo siro ngrumongso biso.

Artinya :
Maka waspadalah, jagalah selalu pegangan jiwa, ya seperti ini yang namanya hidup, kecil, besar, sampai tua, bisalah engkau merasa, janganlah engkau merasa bisa.
MAGHRIB
Maghrib kalampah wengi, serngéngé surup ing arah kéblat, purna oléhé madangi jagad, mego kuning banjur jedul, tondo rino sampun kliwat.

Artinya :
Maghrib mendekati malam, matahari terbenam di arah kiblat, selesai sudah menerangi dunia, mega kuning kemudian keluar, tanda siang sudah terlewat.

Duh sedérék mugiyo melok, bilih urip mung sedélok, cilik, gedé tumeko tuwa, banjur pejah sak nalika,
wangsul ngersané Dzat Kang Kuwasa.

Artinya :
Wahai saudara saksikanlah, bahwa hidup hanya sebentar, kecil, besar, sampai tua, kemudian mati seketika, kembali ke hadapan Yang Kuasa.
ZAKAT

Lamuno siro kanugrahan, pikantuk rijki ora kurang, gunakno kanthi wicaksono, ampun supé menawi tirah,
ngedalaken zakat pitrah.

Artinya :
Jika engkau diberi anugerah, mendapat rezeki tidak kurang, gunakanlah dengan bijaksana, jangan lupa jika tersisa, mengeluarkan zakat fitrah.
Zakat lumantar ngresiki awak, lahir batin boten risak, menawi bondo tasih luwih, tumancepno roso asih, zakat mal kanthi pekulih.

Artinya :
Zakat untuk membersihkan diri, lahir batin tidak rusak, jika harta masih berlimpah, tanamkanlah rasa belas kasih, zakat kekayaan tanpa pamrih.
Pakir, miskin, tiyang jroning paran, ibnu sabil kawastanan, lumampah ngamil, tiyang katah utang, rikab, tiyang ingkang berjuang, muallap nembé mlebu Islam.

Artinya :
Fakir, miskin, orang berpergian, ibn sabil dinamakan, kemudian amil, orang yang banyak hutang, budak, tiyang ingkang berjuang, muallaf yang baru masuk Islam.
Zakat nglatih jiwo lan rogo, tumindak becik kanthi lélo, ngraosaken sarané liyan, ngudari sifat kamanungsan, supados angsal teteping iman.

Artinya :
Zakat melatih jiwa dan raga, menjalankan kebajikan dengan rela, merasakan penderitaan sesame, mengurai sifat kemanusiaan, supaya mendapat tetapnya iman.
PUASA
Posoning rogo énténg dilakoni, cegah dahar lan ngombé jroning ari, ananging pasaning jiwa, iku kang kudhu dén reksa, tumindak asih sepining cela.

Artinya :
Puasa badan mudah dilakukan, mencegah makam dan minum sepanjang hari, namun puasa jiwa, itu yang seharusnya dijaga, menebar kasih sayang menjauhi pencelaan.
Semanten ugi pasaning ati, tumindak alus sarengé budi, supados ngunduh wohing pakerti, pilu mahasing sepi, mayu hayuning bumi.

Artinya :
Demikian pula puasa hati, sikap lemah lembut sebagai cermin kehalusan budi, supaya mendapat kebaikan sesuai dengan apa yang dingini, tiada harapan yang diinginkan, kecuali hanya ketentraman dan keselamatan dalam kehidupan.
HAJI
Kaji dadi kasampurnan, rukun lima kinebatan, mungguhing danten tiyang Islam, zarohi tanah ingkang mulyo, menawi tirah anané bondo.

Artinya :
Haji menjadi kesempurnaan, rukum lima yang disebutkan, untuk semua orang Islam, mengunjungi tanah yang mulia, jika ada kelebihan harta.
Nanging ojo siro kliru, mahami opo kang dén tuju, amergo kaji sakdermo dalan, dudu tujuan luhuring badan, pak kaji dadi tembungan.

Artinya :
Tapi janganlah engkau keliru, memahami apa yang dituju, karena haji hanya sekadar jalan, bukan tujuan kemuliaan badan, jika pulang dipanggil Pak Haji.
Kaji ugi dadi latihan, pisahing siro ninggal kadonyan, bojo, anak lan keluarga, krabat karéb, sederek sedaya, kanca, musuh dho lélakna.

Artinya :
Haji juga untuk latihan, perpisahanmu meninggalkan keduniaan, istri, anak, dan keluarga, karib kerabat, semua saudara, teman dan musuh relakanlah

Kamis, 22 Desember 2011

Syaikh Muhammad Fadhil al-Jaelani al Hasani Tasawuf PANDANGAN Syaikh Abdul Qadir Al-Jaelani Berdasarkan manhaj al-Quran dan Hadits

Syaikh Muhammad Fadhil al-Jaelani al Hasani
Tasawuf PANDANGAN Syaikh Abdul Qadir Al-Jaelani Berdasarkan manhaj al-Quran dan Hadits
 

Bismillahirrahmanirrahim segala puji bagi Allah Swt Tuhan semesta alam. Shalawat beserta salam semoga dilimpahkan
kepada tuanku Abu Qasim semoga Allah Swt memberikan rahmat dan salam sejahtera kepadanya dan kepada keluarganya.

Syaikh Abdul Qadir al Jaelani berkata mengenai hakekat seorang sufi pada firman Allah Swt:
Katakanlah: “Aku tidak meminta upah sedikitpun kepada kamu dalam menyampaikan risalah itu, melainkan (‘mengharapkan kepatuhan’) orang-orang yang mau mengambil jalan kepada Tuhannya.” (Al-Furqan: 57)
Katakanlah: Kepada mereka dengan mengejek dan tegas.
“Aku tidak meminta kepadamu Sama sekali tidak menuntut Dalam menyampaikan risalah itu,dalam menyampaikan tabligku padamu, atas wahyu yang diturunkan kepadaku, dan pemberianku pelajaran kepadamu, semata karena tuntutan Wahyu Ilahi.”
Upah,
Upah dan harta yang aku ambil dari kalian, lalu aku jadikan sebagai sarana untuk meraih tahta dan kekayaan serta berbagai kebanggaan. Sebagaimana yang banyak dilakukan oleh para Syeikh yang bodoh di zaman ini yang tak lebih dari pembantu-pembantu syetan yang mengaitkan dirinya dengan kaum Sufi.
Mereka inilah yang menggerakkan bentuk tipuan, tipudaya, dan mengeruk harta kaum awam yang lemah setelah merusak akidah mereka, dengan  berbagai macam pemalsuan, penipuan, menghalalkan yang haram dan membolehkan hal yang dilarang serta memperkaya diri.
Dengan tindakan itu mereka mengklaim semua sebagai pemilik kekuasaan sampai  jangka panjang, dan mereka memiliki banyak pengikut dan pendukung, mereka pun menyiapkan kontributor dan dukungan untuk tipuan mereka ini.
Setelah itu mereka membangkang kepada penguasa dan memiliki niat untuk keluar dari kekuasaan pemerintahan, memberontak kepada mereka serta menyibukkan diri dengan menghancurkan negeri dan menekan orang yang beriman, merampas harta masyarakat dan harga diri mereka bahkan memenjarakan keturunan mereka.
Pada saat yang sama mereka mengklaim diri sebagai orang yang benar, orang yang ma’rifat kepada Allah, mengklaim sebagai orang yang beriman, menjadi ahli hakikat dan yaqin. Ingatlah bahwa hal tersebut merupakan kerugian yang nyata dan kejahatan yang besar. Semoga Allah Swt melindungi kita dari kejahatan nafsu kita dari perbuatan buruk kita.
Namun aku tidak menuntut dengan tablighku ini, melainkan sebagai hidayah bagi orang-orang yang mau mencari jalan kepada Tuhannya.”
Yang mendidiknya dengan berbagai kemuliaan, jalan menuju Tuhannya yang bisa meraih ma’rifat dan peng-Esaan padaNya.
Syaikh Abdul Qadir Jaelani berkata mengenai sifat-sifat perilaku ruhani kaum Sufi dan peringkat kaum Sufi, dengan firman Allah Swt:
“Tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat.” (Fathir: 27)
“Tidakkah kamu melihat, Wahai orang yang melihat, yang mengambil pelajaran (dari penglihatannya) bahwasanya Allah Dzat Yang memiliki kemampuan sempurna, bagaimana menurunkan melimpahkan dari sisi langit yakni langit Asma’ dan Sifat Dzatiyah.
Hujan
yang menghidupkan bumi-bumi yang mati yang keras kerontang dalam terapan ketiadaannya lalu Kami hasilkan dari hujan-hujan itu yakni dengan air  yang melimpah yang memancar dari Lautan Dzat pada bumi watak manusia.
Buah-buahan
berbagai hidangan yang beragam berupa ma’rifat-ma’rifat, hakikat-hakikat, kilatan cahaya dan limpahan anugerah yang melintas pada para pecinta dan para KekasihNya menurut kondisi ruhani dan maqom mereka.Yang beraneka macam jenisnya. Dengan segala metodenya baik secara ilmul yaqin, ainul yaqin maupun haqqul yaqin. Dan di antara gunung-gunung itu Yaitu para Wali Autad dan Wali Quthub yang siap menerima limpahan karomah dan ketersingkapan ruhani.