TENTANG CINTA Engkau durhaka kepada Allah, dan sekaligus menaruh cinta kepada-Nya. Ini adalah suatu kemustahilan. Apabila benar engkau mencintai-Nya, pastilah engkau taati semua perintah-Nya. Sesungguhnya orang menaruh cinta, Tentulah bersedia mentaati perintah orang yang dicintainya. Dia telah kirimkan nikmat-Nya kepadamu, setiap saat dan tak ada rasa syukur, yang engkau panjatkan kepada-Nya.
Selasa, 10 Juni 2014
Sejarah Dalail Khoirot
Shohbet ini ditulis dengan bahasa asli yang keluar dari bahasa hati Syaikh Mustafa Haqqani melalui rekaman audio yang kami putar ulang. Semoga shohbet ini mengetuk pintu Allah agar wushul dan pintu karat hati akibat dari kelalaian, aniaya diri dan kesembronoan kita. Amiin.
Tema “Sholat dan Dalail Khoirot”
A’uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim Bismillaahir rahmaanir rahiim Allaahumma shalli ‘alaa Sayyidinaa Muhammadiw wa ‘alaa aalihi wa Shahbihi ajma’iin Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh Allah Allah Aziz Allah Allah Allah Subhan Allah Allah Allah Sulthon Allah
Saudara-saudaraku,
Nanti di akherat akan digelar satu fase atau masa pertanggung jawaban diri, untuk menilai apakah kenormalan yang sejak semula itu terpelihara atau tidak. Sholat adalah bengkel yang stationer. Inna sholaata kaanat ‘alal mu’minina kitaaban mauquta. Sholat itu adalah keniscayaan yang mesti diselenggarakan untuk orang mukmin setiap waktu secara teratur. Untuk apa ? Untuk normalisasi dan memelihara kenormalan itu. Dengan kata lain dapat dikatakan, sholat adalah latihan untuk mati. Itu seyogyanya merupakan bagian akhir dari kehidupan kita di alam fana ini untuk jasmani kita, kalau ruh kita abadi sejak dicipta di jaman azali sampai alam baqa, abadi dengan Allah. Barang siapa menjalani kehidupan ini dengan penuh kelalaian, maka akan penuh penyesalan. Husnul Khotimah adalah kita dijemput oleh malaikat, ruh kita untuk melewati alam barzah ke alam baqa dalam keadaan kita ‘normal’ seperti kita di alam azali, kalau dalam keadaan lalai itu yang menjadi masalah. Maka sholat yang kita lakukan seyogyanya kita kemas sebagai langkah sadar untuk menormalisir kembali pertalian kita dengan akherat, dengan Allah, dan dengan rosulullah. Sholat adalah saat mana dalam sekejap rangsangan badaniah, rangsangan dari luar badan kita, kita putus tali hubungannya. Pikiran tidak kita pekerjakan lagi. Hal-hal sebagai akibat dari rangsangan badaniah kita tidak difungsikan lagi. Sholat bukanlah rutinitas dan bukan mewujudkan ‘apalan donga’ (hapalan doa) dan bukan kearagaan kita, tapi sholat adalah untuk kembali ke normalitas. Terus kita fungsikan diri kita untuk sengaja melakukan sholat bahwa yang sedang sholat aadalah hamba allah yang sedang mencari ridho Allah, hamba Allah yang mencari husnul khotimah ,hamba allah yang mencari keselamatan diakherat nanti supaya bisa dipetik keberuntungan.
Saudara-saudaraku,
Adalah langkah mengetuk dua pintu sekaligus, yaitu pintu wushul atau sampai dan nyambung kepada Allah dan mengetuk sendiri-sendiri katub yang ada pada diri kita. Habis setiap orang itu mengalami bentukan yang sifatnya menutup yang timbul sebagai karat dari kelalaian, keaniayaan diri dan kesembronoan. Semua orang dalam kehidupan ini automatically menginjakan kaki di potensi kebiasaan menunda. Hati ini menyimpan potensi Ruh dan Fitrah tetapi ketutup ‘ambek’ (baca dengan) jumlahnya sembrono, aniaya dan kelalaian. Sholat sekaligus mengetuk 2 pintu yaitu pintu Allah agar wushul dan sekaligus mengetuk pintu katub hati untuk membuang karat dari kelalaian, aniaya diri dan kesembronoan. Sedangkan alat untu untuk ‘wushul’ adalah kedekatan dan kebersamaan diri kita kepada Rosulullah Muhammad SAW. Sholat bukan rangkaian kegiatan yang given. Sholat itu perbuatan yang tergantung pada azam atau kesengajaan dan niat. Sholat adalah langkah kesengajaan yang dilakukan dengan mengatakan “Usholli” (dengan sengaja saya sholat).
Thoriqoh Naqshabndi adalah suatu asosiasi diantara sesama kita bersama guru supaya kita semakin terbimbing kearah kejelasan yaitu kejelasan yang merupakan adonan yang sejak jaman Rosululluh dibangun bersama para sahabat Beliau yang kita tarik sampai masa sekarang melalui mata rantai guru yang mengantarkan kita kepada perspektif seperti itu.
Insya Allah perjumpaan kita disini mencerminkan langkah kita untuk maju, bukan maju sedikit mundur banyak, maju sedikit mundur banyak, akhirnya menuju langkah kemunduran. Tolong itu dielakkan. Segala perbuatan yang kita lakukan harus mulai punya ancang-ancang. Ancang-ancang kesengajaan untuk selalu bersama Rosulullah. Mohon ini dicamkan untuk menjadi sesuatu yang disengaja benar untuk diorientasikan dan ‘disok’ (dituangkan) susunan kesadaran ke dalam diri kita, Semoga taufik dan inayah terlimpah kepada kita semua.
Dengan berkah Rosulullah dan berkah Syaikh Nazim …insya Allah …..Bihurmati suratul fatehah…..
Allah Allah Aziz Allah
Allah Allah Sulthon Allah
Sejarah Dalail Khoirot
Ada seorang alim (adalah orang yang memiliki pengetahuan tentang kehidupan dan kematian yang dipetik dari sunah nabi) bernama Abu Abdillah Muhammad Bin Sulaiman Al Jazuli. Dalam perjalanannya, ketika waktu ashar, beliau tiba di suatu gurun yang sangat panas, suhunya kira-kira pada posisi 45°. Beliau melihat dikejauhan ada Oase yang dapat ditempuh setengah jam. “Bila sholat disini, maka harus tayamum dan tempatnya sangat panas” maka akhirnya memutuskan untuk sholat di oase. Beliau sadar betul, beliau itu siapa, Allah itu siapa, hidup untuk apa, tujuan kemana, jadi sebetulnya pengalamannya is Ok. Di Oase hampir 1 jam. Dilihatnya ditepi oase ada sumur, maka Beliau menuju ke sumur. Beliau mencari timba untuk wudhu. Tiba-tiba beliau dikejutkan dengan seorang ‘genduk’ (anak perempuan) berumur 5 tahun. Si Genduk bertanya ‘Lagi ngapain pak ?’. ‘Ini waktu ashar sudah masuk, dan aku mau wudhu, tapi timbanya tidak ada.’ ‘Ooo mau wudhu, kata si Genduk.’ Sesaat kemudian dengsn ‘umak-umik’ disedotnya b`nyu (air) dalam sumur tadi dan langsung mancur tibo ing ngarsane (keluar airnya dan diberikan kepada) Imanm Jazuli. Beliau sangat heran dan takjub. “Ya Bintah”, Nduk genduk,…rene’o (baca : Nak kesinilah). Apa lagi yang ingin kubantu ?’ kata si Genduk (perempuan kecil)’. Kepriye kok bisa nyedot banyu kuwi (mengambil air) kata Imam Jazuli? “Si Genduk bilang “Aku diajari abahku dari kecil untuk menyapa Rosulullah dengan sholawat.” Kalau ada apa-apa tinggal menyapa Rosulullah. Wajah Imam Jazuli seperti dipukul ambek Mike Tyson, mendengar jawaban Si Genduk. Imam Jazuli malu. ‘Aku kok kalah karo arek cilik si genduk iki (Aku merasa malu dengan si perempuan kecil ini). Dengan kata lain sholawatnya ‘si alim’ ora doyo yen ora menyatu karo rosulullah. Begitu terpukul…Imam Jazuli mengucapkan : Astagfirullah ya robb…astagfirullah ya habiballah. Kemudian beliam Imam Al Jazuli pulang ke rumah dan tidak keluar dari kamar selama 13 tahun untuk mengakses ke Rosulullah, dan tidak sedetikpun ingin lepas dari kebersamaan dengan Rosulullah, dan telurnya adalah Dalail Khoirot. Untuk melakukan Dalail Khoirot ini harus tergantung dengan azam (kesengajaan) dan niat. Kesengajaan dan niat untuk selalu bersama dan menyatu kepada Rosulullah, sehingga membaca Dalail Khoirot mesti dengan hati, dengan sense, karena rahmat allah terbesar adalah diturunkannya Rosulullah Muhammad kepada kita.
Saudara-saudarku,
Perjalanan aku dan kamu ora bakal ‘jetis’ (tidak ada daya) bila tanpa kebersamaan dengan rosulullah. Maka setiap kita membaca sholawat seharusnya dengan hati dengan sense, bukan membaca with no heart, no sense. Suatu ilmu yang tidak disertai dengan kedekatan dengan nabi…almost nothing.
Allah Allah Azis Allahb
Allah Allah Subhan Allah
Allah Allah Sulthon Allah
Wa min Allah At Taufiq Al Fatehah
Senin, 09 Juni 2014
Tidak Ada Dzikir Setelah Musyahadah
Apabila seorang murid memulai
majelis dzikir sendirian hendaknya tidak diam lebih dahulu sebelum ia
berhasil hilang (gaib) dari segala yang wujud di alam. Sebab
disyariatkannya dzikir hanya sebagai sarana untuk bisa hadir
bersama al-Haq Swt. Maka selama seorang murid masih menyaksikan sesuatu
dari alam, berarti ia belum masuk ke hadirat al-Haq. Dan apabila ia
sudah masuk ke hadirat dan hatinya juga hadir bersama al-Haq, maka pada
saat ini hendaknya diam tanpa bicara. Sebab dzikir secara lafal tidak
ada artinya lagi ketika bersamaan dengan kesaksian hamba terhadap al-Haq
Swt. Bahkan andaikan hamba yang hadir dengan hatinya ini hendak
berdzikir (menyebut) Allah dengan lisannya ia tidak akan sanggup
berucap. Sebab hadirat ini hadirat yang penuh kewibawaan, keagungan, dan
kebisuan.
Dalam sebagian kesempatan yang dilakukan al-Bashri, Allah Swt. berfirman: “Bilamana engkau belum melihat-Ku maka teruskan untuk selalu men yebut Nama-Ku, dan apabila telah melihatKu maka diamlah. Sebab Aku mensyariatkan kepadamu agar engkau selalu men yebut Nama-Ku hanyalah sebagai sarana (wasilah) untuk bisa hadir bersama-Ku. Karena sesungguhnya Nama-Ku tidak pernah memisahkan Aku.”
Saya pernah mendengar Tuan Guru Ali al-Murshifi berkata:
“Tidak akan terbukakan sesuatu dan anugerah Tuhan dalam hati seorang murid selama dalam pikiran dan hatinya masih berusaha menghadirkan sesuatu dan alam. Sebab terbukanya anugerah dalam hati hanyalah untuk orang yang telah menyaksikan al-Haq Swt. dengan hatinya dan hilang dan segala sesuatu selain al-Haq.”
Maka bisa diketahui, bahwa tidak sepantasnya seorang murid memutus majelis dzikir sebelum ia berhasil gaib (hilang) dari alam.
Sebab orang yang telah memutuskan diri dan majelis dzikir sebelum berhasil gaib maka seakan-akan tidak pernah mengingat Allah sedikit pun, dilihat dari buah yang dihasilkan dalam peningkatan spiritual, sekalipun hal itu sudah dicatat sebagai amal baik. Oleh karenanya, asy-Syibli mengatakan: “Barangsiapa mengingat (berdzikir) Allah secara hakikat maka ia akan lupa segala sesuatu yang ada di sekiranya.” Sementara itu al-Junaid mengatakan: “Barangsiapa menyaksikan makhluk maka tidak akan melihat al-Haq, dan barangsiapa menyaksikan al-Haq, maka tidak akan melihat makhluk kecuali ia termasuk orang yang sangat sempurna.”
Az-Zafi —rahimahullah— mengatakan: “Setiap dzikir yang waktunya tidak lama, ibarat makanan yang tidak bisa mengenyangkan.” Ia juga pernah mengatakan, “Diantara adab berdzikir, hendaknya orang yang berdzikir tidak diam lebih dahulu selama ia masih merasakan kenikmatan berdzikir. Dan apabila sudah merasakan kejenuhan maka adabnya adalah diam.” Demikian pula dimakruhkan (tidak disuka) makan lagi setelah ia merasa kenyang, dan melakukan shalat setelah kenyang yang bisa menghilangkan kekhusyu’an, kecuali setelah mencernanya dengan memperbanyak dzikir. Sebab anggota tubuh akan menjadi maksiat dengan tidak menghadap kepada Allah secara sempurna. Maka ibadah ini sama seperti ibadah orang yang dipaksa, sebagaimana tidak diterimanya keislaman seorang kafir dzimmi yang dipaksa memeluk Islam, maka demikian halnya dengan ibadah orang yang terpaksa.
APAKAH SEORANG MURID MENJADIKAN WIRID-NYA BERMACAM-MACAM?
Dari sini Nabi saw mensyariatkan bermacam-macam wirid untuk hamba. Maka barangsiapa merasa jenuh dengan suatu wirid, maka ia bisa pindah ke wirid lain, sekalipun wirid yang kedua ini kurang utama. Andaikan seorang hamba tidak memiliki kejenuhan, tentu Nabi tidak akan memberi benmacam-macam wirid, akan tetapi beliau hanya akan memberi satu wirid yang terus-menerus sebagaimana malaikat. Maka pahamilah!
KAPAN MURID MELIPAT KEDUDUKAN SPIRITUAL (MAQAMAT)-NYA?
Tuan Guru Ali al-Munshifi berkata: “Apabila seorang murid berdzikir kepada Tuhannya dengan penuh kegigihan, maka kedudukan spiritual (maqamat)-nya akan segera terlipat dan tidak terlalu lamban. Barangkali ia hanya akan menempuhnya dalam waktu satu jam apa yang biasanya ditempuh orang lain dalam waktu sebulan atau lebih.” Ia juga mengatakan: “Seorang salik (penempuh jalan Tuhan) yang berdzikir ibarat burung yang terbang bersungguh-sungguh untuk mencapai hadirat kedekatan. Sedangkan seorang salik yang tanpa bendzikir, ibarat orang lumpuh yang sesekali merangkak kemudian berhenti lagi, sementara jarak yang harus ditempuh sangat jauh. Barangkali orang yang menempuh perjalanan seperti ini akan menghabiskan seluruh usianya dan belum juga sampai pada tujuannya.”
Al-Junaid —rahimahullah— bila diminta seorang murid untuk mendoakannya, maka ia berkata: “Saya memohon kepada Allah agar Dia menunjukkan anda kepada-Nya melalui cara yang paling efektif.” Hal itu dilakukan agar api kejauhan akan segera padam, dan berharap bisa menyaksikan hadirat al-Haq Azza wa Jalla sekalipun hanya sekejap sebelum kematiannya.
Tuan Guru Ali al-Munshifi mengatakan: “Diantara adab para jamaah apabila berdzikir bersama guru maka mereka tidak boleh menerjang isyarat sang guru. Apabila sang guru memberi isyarat mereka untuk diam, maka hendaknya salah seorang dari mereka tidak meneruskan berdzikir, selagi perasaan inderawinya masih berfungsi. Sebab bila ia meneruskan berdzikir sementara ia belum bisa gaib dari para jamaah yang hadir maka dzikirnya adalah tindakan kemunafikan (riya’) yang tercampur dengan ketidaksopanan. Sebab seorang guru tidak akan berkata kepada mereka, ‘Diam!’ kecuali setelah minta izin kepada al-Haq Swt. akan hal itu dengan cara yang sudah dimaklumi di kalangan kaum sufi. Sedangkan melanggar izin dari al-Haq termasuk keluar dari adab, yang mengakibatkan murka.” — Dan hanya Allah Yang Mahatahu.
Dalam sebagian kesempatan yang dilakukan al-Bashri, Allah Swt. berfirman: “Bilamana engkau belum melihat-Ku maka teruskan untuk selalu men yebut Nama-Ku, dan apabila telah melihatKu maka diamlah. Sebab Aku mensyariatkan kepadamu agar engkau selalu men yebut Nama-Ku hanyalah sebagai sarana (wasilah) untuk bisa hadir bersama-Ku. Karena sesungguhnya Nama-Ku tidak pernah memisahkan Aku.”
Saya pernah mendengar Tuan Guru Ali al-Murshifi berkata:
“Tidak akan terbukakan sesuatu dan anugerah Tuhan dalam hati seorang murid selama dalam pikiran dan hatinya masih berusaha menghadirkan sesuatu dan alam. Sebab terbukanya anugerah dalam hati hanyalah untuk orang yang telah menyaksikan al-Haq Swt. dengan hatinya dan hilang dan segala sesuatu selain al-Haq.”
Maka bisa diketahui, bahwa tidak sepantasnya seorang murid memutus majelis dzikir sebelum ia berhasil gaib (hilang) dari alam.
Sebab orang yang telah memutuskan diri dan majelis dzikir sebelum berhasil gaib maka seakan-akan tidak pernah mengingat Allah sedikit pun, dilihat dari buah yang dihasilkan dalam peningkatan spiritual, sekalipun hal itu sudah dicatat sebagai amal baik. Oleh karenanya, asy-Syibli mengatakan: “Barangsiapa mengingat (berdzikir) Allah secara hakikat maka ia akan lupa segala sesuatu yang ada di sekiranya.” Sementara itu al-Junaid mengatakan: “Barangsiapa menyaksikan makhluk maka tidak akan melihat al-Haq, dan barangsiapa menyaksikan al-Haq, maka tidak akan melihat makhluk kecuali ia termasuk orang yang sangat sempurna.”
Az-Zafi —rahimahullah— mengatakan: “Setiap dzikir yang waktunya tidak lama, ibarat makanan yang tidak bisa mengenyangkan.” Ia juga pernah mengatakan, “Diantara adab berdzikir, hendaknya orang yang berdzikir tidak diam lebih dahulu selama ia masih merasakan kenikmatan berdzikir. Dan apabila sudah merasakan kejenuhan maka adabnya adalah diam.” Demikian pula dimakruhkan (tidak disuka) makan lagi setelah ia merasa kenyang, dan melakukan shalat setelah kenyang yang bisa menghilangkan kekhusyu’an, kecuali setelah mencernanya dengan memperbanyak dzikir. Sebab anggota tubuh akan menjadi maksiat dengan tidak menghadap kepada Allah secara sempurna. Maka ibadah ini sama seperti ibadah orang yang dipaksa, sebagaimana tidak diterimanya keislaman seorang kafir dzimmi yang dipaksa memeluk Islam, maka demikian halnya dengan ibadah orang yang terpaksa.
APAKAH SEORANG MURID MENJADIKAN WIRID-NYA BERMACAM-MACAM?
Dari sini Nabi saw mensyariatkan bermacam-macam wirid untuk hamba. Maka barangsiapa merasa jenuh dengan suatu wirid, maka ia bisa pindah ke wirid lain, sekalipun wirid yang kedua ini kurang utama. Andaikan seorang hamba tidak memiliki kejenuhan, tentu Nabi tidak akan memberi benmacam-macam wirid, akan tetapi beliau hanya akan memberi satu wirid yang terus-menerus sebagaimana malaikat. Maka pahamilah!
KAPAN MURID MELIPAT KEDUDUKAN SPIRITUAL (MAQAMAT)-NYA?
Tuan Guru Ali al-Munshifi berkata: “Apabila seorang murid berdzikir kepada Tuhannya dengan penuh kegigihan, maka kedudukan spiritual (maqamat)-nya akan segera terlipat dan tidak terlalu lamban. Barangkali ia hanya akan menempuhnya dalam waktu satu jam apa yang biasanya ditempuh orang lain dalam waktu sebulan atau lebih.” Ia juga mengatakan: “Seorang salik (penempuh jalan Tuhan) yang berdzikir ibarat burung yang terbang bersungguh-sungguh untuk mencapai hadirat kedekatan. Sedangkan seorang salik yang tanpa bendzikir, ibarat orang lumpuh yang sesekali merangkak kemudian berhenti lagi, sementara jarak yang harus ditempuh sangat jauh. Barangkali orang yang menempuh perjalanan seperti ini akan menghabiskan seluruh usianya dan belum juga sampai pada tujuannya.”
Al-Junaid —rahimahullah— bila diminta seorang murid untuk mendoakannya, maka ia berkata: “Saya memohon kepada Allah agar Dia menunjukkan anda kepada-Nya melalui cara yang paling efektif.” Hal itu dilakukan agar api kejauhan akan segera padam, dan berharap bisa menyaksikan hadirat al-Haq Azza wa Jalla sekalipun hanya sekejap sebelum kematiannya.
Tuan Guru Ali al-Munshifi mengatakan: “Diantara adab para jamaah apabila berdzikir bersama guru maka mereka tidak boleh menerjang isyarat sang guru. Apabila sang guru memberi isyarat mereka untuk diam, maka hendaknya salah seorang dari mereka tidak meneruskan berdzikir, selagi perasaan inderawinya masih berfungsi. Sebab bila ia meneruskan berdzikir sementara ia belum bisa gaib dari para jamaah yang hadir maka dzikirnya adalah tindakan kemunafikan (riya’) yang tercampur dengan ketidaksopanan. Sebab seorang guru tidak akan berkata kepada mereka, ‘Diam!’ kecuali setelah minta izin kepada al-Haq Swt. akan hal itu dengan cara yang sudah dimaklumi di kalangan kaum sufi. Sedangkan melanggar izin dari al-Haq termasuk keluar dari adab, yang mengakibatkan murka.” — Dan hanya Allah Yang Mahatahu.
Tasawuf dalam Persepktif Filosufi Asy-Syadzily
Sebagaimana dijelaskan di atas,
Sulthanul Auliya Abul Hasan Asy-Syadzily memiliki doktrin dan ajaran
Tasawuf yang terkesan sangat kuat dalam menanamkan sebuah keyakinan.
Tetapi, dibalik itu semua ada nilai-nilai “kemerdekaan” yang terkadang
terkesan “liberal”. Tetapi juga tidak berarti, bahwa pandangan tentang
kemerdekaan Sufi identik dengan liberalisme, dalam pengertian akademis
modern. Bahkan juga bukan sebagaimana filsafat kebebasan yang ditelurkan
oleh eksponen Yunani Kuno.
juga bukan berarti bahwa
Asy-Syadzili berdiri sendiri, tanpa memiliki kaitan dengan masa lampau,
pandangan-pandangan para Sufi pendahulu. Dilihat dari Fatwa-fatwanya dan
Hizb-hizb Asy-Syadzily, akan merefleksikan sebuah nilai-nilai luhur,
betapa pun, produk-produk Fatwa-fatwa dan Hizb-hizbnya bukan muncul dari
rangkaian tertib kefilsafatan itu sendiri. Tidak satu pun fakta dan
data yang memberikan bukti-bukti bahwa wacana-wacana Asy-Syadzily,
adalah sebagai produk sebuah Filsafat.
Pendekatan yang berbeda jauh antara dunia filsafat dan dunia Tasawuf, telah membentangkan jarak tiada tara, walau pun pada simpul-simpulnya dunia filsafat tidak bisa mengingkari betapa pendekatan Tasawuf merupakan ujung dan sekaligus pangkal dari kefilsafatan itu sendiri. Sebaliknya, logika-logika filsafat, betapa pun akhirnya harus berbanding terbalik dengan logika Tasawuf, tetapi logika Tasawuf tetap memiliki logika-logika yang hampir beriringan dengan logika filsafat.
Jika logika-logika filsafat bermula dari skeptisisme yang kelak berakhir dengan keyakinan pada kesimpulannya, maka logika Tasawuf justru sebaliknya: bermula dari keyakinan, kemudian mengurai dalam tertib logika. Sesuatu hal yang dianggap mustahil oleh dunia filsafat itu sendiri, bagaimana sebuah kesimpulan muncul tanpa adanya rangkaian logika yang membimbing ke arah kesimpulan. Tetapi logika Tasawuf juga menganggap “aneh” adanya logika filsafat, sebab pada “hakikatnya” sebelum seseorang membangun sebuah premis, sudah tergambar secara metafisis kesimpulan-kesimpulannya, karena keyakinan itu lebih dahulu ada, sebelum keraguan tiba.
Jadi, menyimpulkan secara filosofis seluruh paradigma Syadzilian, lebih sebagai penguraian komprehensif, mengingat —sekali pun Asy-Syadzily secara akademis juga menelaah karya-karya Tasawuf pendahulunya, dan bahkan juga telaah terhadap karya filsafat dan laboratorium ilmu pengetahuan— pandangan Asy-Syadzily bersifat supra-intuitif. Dengan demikian, pembuktian akademis akan senantiasa dihantarkan pada kompromi metodologis, antara khazanah filsafat dengan khazanah Sufistik itu sendiri.
Dalam perspektif inilah ada sejumlah pendekatan, khususnya jika atmosfir kefilsafatan memandang seluruh paradigma Syadzilian, untuk kepentingan kajian filosofis itu sendiri:
Pertama, hubungan doktrin Tasawuf Asy-Syadzily dengan para Sufi besar generasi sebelumnya, serta munculnya gerakan filsafat dalam dunia Islam saat itu.
Kedua, sejauh mana pandangan-pandangan Asy-Syadzili bersinggungan dengan pandangan-pandangan Sufi lain, terutama para Sufi yang melahirkan sejumlah pemikiran orisinil.Ketiga, posisi Asy-Syadzily dalam membangun sebuah “Bangunan Tasawuf” dan kelak menjadi gerakan terorganisir hingga saat ini.Keempat, kualifikasi Asy-Syadzily dalam jajaran para pembangun filsafat di dunia Islam.Kelima, klasifikasi pandangan Asy-Syadzili:- Pandangan tentang keimanan dan keyakinan terhadap Allah Swt.- Pandangan tentang Maqamat dan Haal.- Pandangan yang tersembunyi dibalik doa-doa maupun Hizb-hizbnya.
Asy-Syadzili dengan Para Sufi
Sebagaimana dijelaskan di atas, sejumlah rujukan Kitab karya para Sufi yang seringkali digunakan oleh Asy-Syadzili, dan para guru yang berpengaruh dalam membentuk kerpibadian Asy-Syadzili, merupakan tema yang sangat urgen untuk menlihat sejauhmana pandangan Asy-Syadzili itu terbentuk. Sebab banyak sekali pandangan Asy-Syadzily yang tidak tertuang di dalam Kitab-kitab para Sufi itu, baik secara terminologi maupun epitemologis, bahkan sampai pada tahap ontologisnya.
Dari para Sufi pendahulu, misalnya tercatat, —dari berbagai sumber yang ada— antara lain:
Abu Abdullah ibnu Harazim, seorang Wali besar yang saleh, salah satu Mursyid di Andalusia dan Maroko. Ia merupakan salah satu murid Sufi besar, Abu Madyan al-Ghauts, murid Abdul Qadir al-Jilany. Abu Madyan juga salah satu muridnya ayahanda Abu Abdullah, yaitu Abul Hasan. Tetapi Ibnu Harazim tidak mengambil pelajaran dari ayahnya sendiri. Ibnu Harazim inilah guru Sufi pertama kali yang dijadikan sebagai pembimbing Asy-Syadzily, sebelum beliau pindah ke Tunisia. Tahun 633 H. Ibnu Harazim wafat di Marokko, dimana makamnya hingga detik ini diziarahi oleh para Sufi dan ummat Islam. Abu Madyan al-Ghauts juga memiliki sebuah karya kitab yang terkenal, “Al-Hikam” yang tentu saja beda dengan Al-Hikamnya Ibnu Athaillah as-Sakandary. Abu Madyan juga memiliki seorang murid besar yang sangat luar biasa, Ibnu Araby dengan ratusan karya kitab Tasawuf, terutama yang sangat terkenal, Al-Futuhatul Makkiyah dan Fushusul Hikam.
Abu Sa’id al-Bajy. Nama sebenarnya adalah Khalaf bin Yahya at-Tamimy dari penduduk Bajah, seorang Sufi besar di zamannya, dan poluler sebagai Wali di Tunisia. Abu Sa’id juga salah satu murid Abu Madyan al-Ghauts. Kata Abul Hasan Asy-Syadzili, “Ketika aku memasuki kota Tunisia, pada mula aku menempuh jalan Sufi, saya memasuki akademi para Syeikh. Ada sesatu yang saya cintai di sana, dan masing-masing Syeikh itu menjelaskan kebaikan padaku. Bahkan ada yang menjelaskan tentang kondisi ruhaniku. Sampai akhirnya aku memasuki Syeikh Abu Sa’id al-Bajy ra, ia menjelaskan tentang kondisi ruhaniku sebelum aku menjelaskannya, dan ia membicarakan tentang rahasiaku. Saya akhirnya tahu bahwa Syeikh ini adalah Wali Allah. Saya akhirnya belajar padanya dan mengambil banyak manfaat darinya.”
Abu Muhammad al-Mahdawy, yaitu Abu Muhammad bin Abu Bakr al-Mahdawy, seorang Syiekh Sufi, berpenduduk di Mahdiya Tunisia. Mendapatkan ajaran Thariqat dari Abu Madyan. Al-Mahdawy juga dipuji oleh Ibnu Araby, dalam Ar-Risalah al-Qudsiyah, dan wafat, tahun 621 H.
Ada pula yang mengatakan, Asy-Syadzily sempat bertemu dengan Ibnu Araby, yaitu Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Abdullah al-Hatimy at-Tha’y yang bergelar sebagai Syeikhul Akbar. Ibnu Araby juga mendapatkan Thariqat dari Abu Madyan. Tetapi sumber-sumber yang menjelaskan bahwa Asy-Syadzily pernah belajar kepada Ibnu Araby masih diperselisihkan.
Abul Fath al-Wasithy, yaitu Muhammad Abul Ghaim al-Wasithy, salah satu murid Sayyid Ahmad Rifai’y. “Aku masuk kota Irak, saya temui sejumlah Syeikh Sufi, dan saya tidak menemui yang lebih hebat ketimbang Abul Fath al-Wasithy. Ketika aku mencari siapa yang menjadi Qutub, ia berkata padaku, “Apakah Anda mencari Wali Qutub di Irak, padahal ia ada di negerimu Marokko? Kembalilah ke Marokko, akan Anda temui Qutub di sana.” Lantas aku kembali ke Marokko dan aku bertemu dengan guruku, Abdussalam bin Masyisy,” kata Asy-Syadzily.
Abdus Salam bin Masyisy. Yaitu Abu Muhammad dan Abu Abdullah Abdissalam bin Masyisyi, salah satu Qutub Agung yang nasabnya juga bertemu pada nasab Asy-Syadzili pada jalur Idris. Abdussalam bin Masyisyis inilah yang berpengaruh besar dalam kepribadian Asy-Syadzily sekaligus melimpahkan kemursyidan Thariqat Syadziliyah pada Abul Hasan asy-Syadzily. Abdus Salam bin Masyisys, adalah murid dari Syeikh Abdurrahman al-Hasany al-Madany, yang punya jalur juga dari Abu Madyan al-Ghauts, tetapi mendapatkan Thariqatnya dari Qutbul Auliya’ Taqyuddin al-Fuqair ash-Shufy.
Hampir seluruh pandangan asy-Syadzily bersifat Ilhamy. Kalau toh ada tali yang kait mengait dengan pandangan para Sufi pendahulunya, semata sebagai pijakan awal. Selanjutnya muncullah filosufi khusus yang merupakan pandangan Asy-Syadzili itu sendiri, lebih sebagai penyempurna atas paradigma pendahulunya.
Hal demikian terletak pada kedalaman fatwa-fatwanya, dan ajarannya yang disampaikan pada para pengikutnya. Terkadang di satu sisi, pandangannya mirip dengan Ibnu Araby, di sisi lain mirip Abdul Qadir Jailany, namun di pihak lain juga relevan dengan Ar-Rifa’y maupun Abu Madyan al-Ghauts.
Selama ini pandangan-pandangan Sufi pendahulu Asy-Syadzily sempat dituduh sebagai Filsafat yang pantheistik, mengingat adanya sejumlah istilah yang sangat sulit difahami akal rasional, tetapi hanya bisa difahami oleh akal hati. Sejumlah tragedi yang kemudian menimpa para Sufi besar seperti pada Abu Mansur Al-Hallaj, semata karena munculnya kebodohan dan kecemburuan terhadap waca-waca yang lahir dari Al-Hallaj. Padahal murid Al-Junaid al-Baghdady ini, pandangan-pandangannya juga tidak menyimpang dari pandangan Al-Junayd sendiri, terutama jika kita lihat dari Rasailul Junaid (Surat-surat Al-Junayd). Kelak beberapa abad kemudian, muncul Ibnu Araby yang sangat menggetarkan dunia teologi Islam, karena kehebatan eksplorasi batiniyahnya yang tidak bisa diikuti oleh kaum filosuf, kaum fuqaha’ maupun ahli hadits, terutama pengikut Ibnu Taymiyah yang mewarisi Neo-Hambalian formalis. Mereka ini menuduh pandangan Ibnu Araby sebagai pandangan yang menyesatkan, karena dituding menganut pantheisme Wahdatul Wujud (Kesatuan Wujud).
Cara pandang Ibnu Taymiyah ini pun akhirnya berkembang di abad-abad kemudian, dimana anggapan Wahdatul Wujud sebagai klaim yang bisa ditudingkan pada para Sufi, khususnya Ibnu Araby.
Padahal memandang seluruh ungkapan Ibnu Araby, hingga Al-Hallaj, Al-Ghazali, Al-Junayd, Al-Bisthamy sebagai pandangan Wahdatul Wujud sebagai pandangan yang salah dan sangat dangkal. Hal yang sama ketika membaca fatwa-fatwa Asy-Syadzily maupun para pengikutnya, terutama Ibnu Athaillah as-Sakandary, jika sepintas dengan hanya menggunakan pendekatan filosofis belaka, akan menyimpulkan pandangan yang sama: menuduh mereka sebagai penerus Wahdatul Wujud. Seluruh eksponen Sufi, sama sekali tidak pernah menyebut apalagi membangun istilah Wahdatul Wujud, kecuali hanya para penentangnya maupun para pengamat sepintas belaka.
Bahkan secara ironi sejumlah pengamat filsafat dari kalangan ummat Islam, seperti Afifi, Zakky Mubarak, dan senagkatannya, juga menilai pandangan Ibnu Araby dkk, sebagai pandangan Wahdatul Wujud. Sekali lagi karena mereka menggunakan metodologi rasionalisme murni untuk mendekati Ontologi para Sufi itu. Padahal untuk memahami perspektif-perspektif kedalaman Sufi tidak cukup dengan sekadar mengolah logika-logika Tasawuf untuk kesimpulannya. Tetapi, haruslah memasuki kedalamannya melalui amaliyahnya.
Kalau toh pun harus dinyatakan dalam wacana filosofis, makna Wahdatul Wujud, bukanlah Bersatunya Wujud, atau Manunggalnya Wujud, Tetapi Wahdatul Wujud makanya adalah Satu-Satunya Yang Wujud. Ini baru dibenarkan.
Atau makna Wahdah disana yang bersatu adalah Syuhudnya, (Penyaksian Jiwanya) bukan Wujudnya. Seperti Syuhudul Wahdah fil Katsroh (Memandang Satu-satunya dalam keragaman) atau Syuhudul Katsroh fil Wahdah (Memandang keragaman dalam Satu-satuNya).
Sebab bagi para Sufi, Ilmu itu datangnya setelah amal. Bukan sebaliknya, ilmu dulu baru beramal. Dalam Al-Qur’an dijelaskan, “Fas’aluu ahladzdzikri in kuntum laa ta’lamuun.” (Bertanyalah kepada ahli dzikir manakala engkau tidak mengetahui).”
Pendekatan yang berbeda jauh antara dunia filsafat dan dunia Tasawuf, telah membentangkan jarak tiada tara, walau pun pada simpul-simpulnya dunia filsafat tidak bisa mengingkari betapa pendekatan Tasawuf merupakan ujung dan sekaligus pangkal dari kefilsafatan itu sendiri. Sebaliknya, logika-logika filsafat, betapa pun akhirnya harus berbanding terbalik dengan logika Tasawuf, tetapi logika Tasawuf tetap memiliki logika-logika yang hampir beriringan dengan logika filsafat.
Jika logika-logika filsafat bermula dari skeptisisme yang kelak berakhir dengan keyakinan pada kesimpulannya, maka logika Tasawuf justru sebaliknya: bermula dari keyakinan, kemudian mengurai dalam tertib logika. Sesuatu hal yang dianggap mustahil oleh dunia filsafat itu sendiri, bagaimana sebuah kesimpulan muncul tanpa adanya rangkaian logika yang membimbing ke arah kesimpulan. Tetapi logika Tasawuf juga menganggap “aneh” adanya logika filsafat, sebab pada “hakikatnya” sebelum seseorang membangun sebuah premis, sudah tergambar secara metafisis kesimpulan-kesimpulannya, karena keyakinan itu lebih dahulu ada, sebelum keraguan tiba.
Jadi, menyimpulkan secara filosofis seluruh paradigma Syadzilian, lebih sebagai penguraian komprehensif, mengingat —sekali pun Asy-Syadzily secara akademis juga menelaah karya-karya Tasawuf pendahulunya, dan bahkan juga telaah terhadap karya filsafat dan laboratorium ilmu pengetahuan— pandangan Asy-Syadzily bersifat supra-intuitif. Dengan demikian, pembuktian akademis akan senantiasa dihantarkan pada kompromi metodologis, antara khazanah filsafat dengan khazanah Sufistik itu sendiri.
Dalam perspektif inilah ada sejumlah pendekatan, khususnya jika atmosfir kefilsafatan memandang seluruh paradigma Syadzilian, untuk kepentingan kajian filosofis itu sendiri:
Pertama, hubungan doktrin Tasawuf Asy-Syadzily dengan para Sufi besar generasi sebelumnya, serta munculnya gerakan filsafat dalam dunia Islam saat itu.
Kedua, sejauh mana pandangan-pandangan Asy-Syadzili bersinggungan dengan pandangan-pandangan Sufi lain, terutama para Sufi yang melahirkan sejumlah pemikiran orisinil.Ketiga, posisi Asy-Syadzily dalam membangun sebuah “Bangunan Tasawuf” dan kelak menjadi gerakan terorganisir hingga saat ini.Keempat, kualifikasi Asy-Syadzily dalam jajaran para pembangun filsafat di dunia Islam.Kelima, klasifikasi pandangan Asy-Syadzili:- Pandangan tentang keimanan dan keyakinan terhadap Allah Swt.- Pandangan tentang Maqamat dan Haal.- Pandangan yang tersembunyi dibalik doa-doa maupun Hizb-hizbnya.
Asy-Syadzili dengan Para Sufi
Sebagaimana dijelaskan di atas, sejumlah rujukan Kitab karya para Sufi yang seringkali digunakan oleh Asy-Syadzili, dan para guru yang berpengaruh dalam membentuk kerpibadian Asy-Syadzili, merupakan tema yang sangat urgen untuk menlihat sejauhmana pandangan Asy-Syadzili itu terbentuk. Sebab banyak sekali pandangan Asy-Syadzily yang tidak tertuang di dalam Kitab-kitab para Sufi itu, baik secara terminologi maupun epitemologis, bahkan sampai pada tahap ontologisnya.
Dari para Sufi pendahulu, misalnya tercatat, —dari berbagai sumber yang ada— antara lain:
Abu Abdullah ibnu Harazim, seorang Wali besar yang saleh, salah satu Mursyid di Andalusia dan Maroko. Ia merupakan salah satu murid Sufi besar, Abu Madyan al-Ghauts, murid Abdul Qadir al-Jilany. Abu Madyan juga salah satu muridnya ayahanda Abu Abdullah, yaitu Abul Hasan. Tetapi Ibnu Harazim tidak mengambil pelajaran dari ayahnya sendiri. Ibnu Harazim inilah guru Sufi pertama kali yang dijadikan sebagai pembimbing Asy-Syadzily, sebelum beliau pindah ke Tunisia. Tahun 633 H. Ibnu Harazim wafat di Marokko, dimana makamnya hingga detik ini diziarahi oleh para Sufi dan ummat Islam. Abu Madyan al-Ghauts juga memiliki sebuah karya kitab yang terkenal, “Al-Hikam” yang tentu saja beda dengan Al-Hikamnya Ibnu Athaillah as-Sakandary. Abu Madyan juga memiliki seorang murid besar yang sangat luar biasa, Ibnu Araby dengan ratusan karya kitab Tasawuf, terutama yang sangat terkenal, Al-Futuhatul Makkiyah dan Fushusul Hikam.
Abu Sa’id al-Bajy. Nama sebenarnya adalah Khalaf bin Yahya at-Tamimy dari penduduk Bajah, seorang Sufi besar di zamannya, dan poluler sebagai Wali di Tunisia. Abu Sa’id juga salah satu murid Abu Madyan al-Ghauts. Kata Abul Hasan Asy-Syadzili, “Ketika aku memasuki kota Tunisia, pada mula aku menempuh jalan Sufi, saya memasuki akademi para Syeikh. Ada sesatu yang saya cintai di sana, dan masing-masing Syeikh itu menjelaskan kebaikan padaku. Bahkan ada yang menjelaskan tentang kondisi ruhaniku. Sampai akhirnya aku memasuki Syeikh Abu Sa’id al-Bajy ra, ia menjelaskan tentang kondisi ruhaniku sebelum aku menjelaskannya, dan ia membicarakan tentang rahasiaku. Saya akhirnya tahu bahwa Syeikh ini adalah Wali Allah. Saya akhirnya belajar padanya dan mengambil banyak manfaat darinya.”
Abu Muhammad al-Mahdawy, yaitu Abu Muhammad bin Abu Bakr al-Mahdawy, seorang Syiekh Sufi, berpenduduk di Mahdiya Tunisia. Mendapatkan ajaran Thariqat dari Abu Madyan. Al-Mahdawy juga dipuji oleh Ibnu Araby, dalam Ar-Risalah al-Qudsiyah, dan wafat, tahun 621 H.
Ada pula yang mengatakan, Asy-Syadzily sempat bertemu dengan Ibnu Araby, yaitu Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Abdullah al-Hatimy at-Tha’y yang bergelar sebagai Syeikhul Akbar. Ibnu Araby juga mendapatkan Thariqat dari Abu Madyan. Tetapi sumber-sumber yang menjelaskan bahwa Asy-Syadzily pernah belajar kepada Ibnu Araby masih diperselisihkan.
Abul Fath al-Wasithy, yaitu Muhammad Abul Ghaim al-Wasithy, salah satu murid Sayyid Ahmad Rifai’y. “Aku masuk kota Irak, saya temui sejumlah Syeikh Sufi, dan saya tidak menemui yang lebih hebat ketimbang Abul Fath al-Wasithy. Ketika aku mencari siapa yang menjadi Qutub, ia berkata padaku, “Apakah Anda mencari Wali Qutub di Irak, padahal ia ada di negerimu Marokko? Kembalilah ke Marokko, akan Anda temui Qutub di sana.” Lantas aku kembali ke Marokko dan aku bertemu dengan guruku, Abdussalam bin Masyisy,” kata Asy-Syadzily.
Abdus Salam bin Masyisy. Yaitu Abu Muhammad dan Abu Abdullah Abdissalam bin Masyisyi, salah satu Qutub Agung yang nasabnya juga bertemu pada nasab Asy-Syadzili pada jalur Idris. Abdussalam bin Masyisyis inilah yang berpengaruh besar dalam kepribadian Asy-Syadzily sekaligus melimpahkan kemursyidan Thariqat Syadziliyah pada Abul Hasan asy-Syadzily. Abdus Salam bin Masyisys, adalah murid dari Syeikh Abdurrahman al-Hasany al-Madany, yang punya jalur juga dari Abu Madyan al-Ghauts, tetapi mendapatkan Thariqatnya dari Qutbul Auliya’ Taqyuddin al-Fuqair ash-Shufy.
Hampir seluruh pandangan asy-Syadzily bersifat Ilhamy. Kalau toh ada tali yang kait mengait dengan pandangan para Sufi pendahulunya, semata sebagai pijakan awal. Selanjutnya muncullah filosufi khusus yang merupakan pandangan Asy-Syadzili itu sendiri, lebih sebagai penyempurna atas paradigma pendahulunya.
Hal demikian terletak pada kedalaman fatwa-fatwanya, dan ajarannya yang disampaikan pada para pengikutnya. Terkadang di satu sisi, pandangannya mirip dengan Ibnu Araby, di sisi lain mirip Abdul Qadir Jailany, namun di pihak lain juga relevan dengan Ar-Rifa’y maupun Abu Madyan al-Ghauts.
Selama ini pandangan-pandangan Sufi pendahulu Asy-Syadzily sempat dituduh sebagai Filsafat yang pantheistik, mengingat adanya sejumlah istilah yang sangat sulit difahami akal rasional, tetapi hanya bisa difahami oleh akal hati. Sejumlah tragedi yang kemudian menimpa para Sufi besar seperti pada Abu Mansur Al-Hallaj, semata karena munculnya kebodohan dan kecemburuan terhadap waca-waca yang lahir dari Al-Hallaj. Padahal murid Al-Junaid al-Baghdady ini, pandangan-pandangannya juga tidak menyimpang dari pandangan Al-Junayd sendiri, terutama jika kita lihat dari Rasailul Junaid (Surat-surat Al-Junayd). Kelak beberapa abad kemudian, muncul Ibnu Araby yang sangat menggetarkan dunia teologi Islam, karena kehebatan eksplorasi batiniyahnya yang tidak bisa diikuti oleh kaum filosuf, kaum fuqaha’ maupun ahli hadits, terutama pengikut Ibnu Taymiyah yang mewarisi Neo-Hambalian formalis. Mereka ini menuduh pandangan Ibnu Araby sebagai pandangan yang menyesatkan, karena dituding menganut pantheisme Wahdatul Wujud (Kesatuan Wujud).
Cara pandang Ibnu Taymiyah ini pun akhirnya berkembang di abad-abad kemudian, dimana anggapan Wahdatul Wujud sebagai klaim yang bisa ditudingkan pada para Sufi, khususnya Ibnu Araby.
Padahal memandang seluruh ungkapan Ibnu Araby, hingga Al-Hallaj, Al-Ghazali, Al-Junayd, Al-Bisthamy sebagai pandangan Wahdatul Wujud sebagai pandangan yang salah dan sangat dangkal. Hal yang sama ketika membaca fatwa-fatwa Asy-Syadzily maupun para pengikutnya, terutama Ibnu Athaillah as-Sakandary, jika sepintas dengan hanya menggunakan pendekatan filosofis belaka, akan menyimpulkan pandangan yang sama: menuduh mereka sebagai penerus Wahdatul Wujud. Seluruh eksponen Sufi, sama sekali tidak pernah menyebut apalagi membangun istilah Wahdatul Wujud, kecuali hanya para penentangnya maupun para pengamat sepintas belaka.
Bahkan secara ironi sejumlah pengamat filsafat dari kalangan ummat Islam, seperti Afifi, Zakky Mubarak, dan senagkatannya, juga menilai pandangan Ibnu Araby dkk, sebagai pandangan Wahdatul Wujud. Sekali lagi karena mereka menggunakan metodologi rasionalisme murni untuk mendekati Ontologi para Sufi itu. Padahal untuk memahami perspektif-perspektif kedalaman Sufi tidak cukup dengan sekadar mengolah logika-logika Tasawuf untuk kesimpulannya. Tetapi, haruslah memasuki kedalamannya melalui amaliyahnya.
Kalau toh pun harus dinyatakan dalam wacana filosofis, makna Wahdatul Wujud, bukanlah Bersatunya Wujud, atau Manunggalnya Wujud, Tetapi Wahdatul Wujud makanya adalah Satu-Satunya Yang Wujud. Ini baru dibenarkan.
Atau makna Wahdah disana yang bersatu adalah Syuhudnya, (Penyaksian Jiwanya) bukan Wujudnya. Seperti Syuhudul Wahdah fil Katsroh (Memandang Satu-satunya dalam keragaman) atau Syuhudul Katsroh fil Wahdah (Memandang keragaman dalam Satu-satuNya).
Sebab bagi para Sufi, Ilmu itu datangnya setelah amal. Bukan sebaliknya, ilmu dulu baru beramal. Dalam Al-Qur’an dijelaskan, “Fas’aluu ahladzdzikri in kuntum laa ta’lamuun.” (Bertanyalah kepada ahli dzikir manakala engkau tidak mengetahui).”
Langganan:
Postingan (Atom)
