Selasa, 22 Januari 2019

Harley Davidson pun Berdzikir



Deru Harley Davidson bergemuruh disekitar kafe Susi. Sepuluh lelaki kekar turun, dengan tato dan arogansinya. Muka mereka tampak seram, tapi juga tidak terlalu garang. 

“Ada Jack disini?” taya komandan mereka pada Satpam. 

“Ada Pak, di dalam,” 

Merekapun masuk satu per satu ke kafe itu. Begitu memasuki sudut kafe, mereka berteriak bersama-sama. Dan aneh, mereka justru meneriakkan takbir, “Allahu Akbar!” Suara yang hampir-hampir meruntuhkan gedung kafe itu, dan hampir-hampir membubarkan seisi kafe itu. 

“Jaaack! 
Luar biaasa! 
Sudah saya duga, kawan kita ini akan tetap nyentrik, dan tidak akan sembuh dari kegilaanya … Haa…ha…ha…,” kata salah seorang pengendara Harley itu. 

Rupanya antara Jack dan mereka seperti sahabat yang kental sekali, dan Jack telah lama menghilang, 10 tahun lamanya, dari klub mereka itu. Jack hanya menjadi bahan pembicaraan mereka selama sepuluh tahun itu, karena Jack pergi begitu saja, setelah meninggalkan kesan spiritual yang begitu mendalam diantara mereka. 

Di klub Harley itu, Jack memang menjadi angota kehormatan, sekaligus sebagai psikolog bagi mereka. Anehnya, satu per satu mulai mengikuti jejak spiritual Jack, dan anehnya, mereka banyak yang mengikuti tareqat sufi, seperti Jack. Bahkan mereka tak harus melapaskan diri dari kegemaran mereka, bersepeda motor besar. 

“Kapan dong…? Kalau teman-teman sampai tahu ente ada di Jakarta, pasti ente sudah tidak boleh kemana-mana lagi, tidak boleh menghilang lagi. Kita kangen Jack… kita kangen. Masak ente biarin kita-kita ini terlantar. Masak ente tega…” 

Mendengar curhat satu per satu diantara kawan-kawan klub motor besar itu, Jack hanya senyum-senyum, sesekali meledakkan tawanya, karena banyak sekali kisah-kisah lucu, bahkan ekstrim, diantara mereka selama sepuluh tahun terakhir ini. 

“Sudah! Ini tidak boleh ditawar lagi. Kita rayakan kembali si Jack. Bukan disini, di klub kita tempat nongkrong. Kita adakan dzikir bersama disana, bersama Jama’ah Motor Besar … Ha…ha…ha… Setuju !!!” 

Jack tak berkutik. Diam-diam ia terharu. Ia juga tak pernah berfikir sejauh itu, disaat awal dirinya bergabung dengan klub motor itu. Di luar dugaan mereka menjadi pengamal dunia sufi yang hebat, dan bahkan berkembang pesat diluar bayangan Jack sendiri. Tetapi memang, hidayah Allah jika sudah turun kepada seseorang, tak satupun yang bias menghalangi. 

“Jack, sekarang ini ada tradisi baru di antara kawan-kawan,” celetuk Jony.
“Apa Jon?”
“Ya, sekadar mempraktikkan ajaran Andalah… Mana lagi kalu bukan Anda yang kasih. Masak sudah lupa?”
“Apa itu? Saya sudah benar-benar lupa lho…”
“Yah, payah deh. Kan ente bilang, agar kita belajar berdzikir dari deru suara Harley Davidson ini…”
Jack tertawa terbahak-bahak samai tubuhnya terguncang-guncang.
“Iya…ya…yaa… saya ingat. Jadi kalian semua terus melatih dzikir lewat suara mesin ? Wah, kalau begitu akan saya umumkan ke seluruh dunia tareqat, bahwa kalianlah satu-satunya klub tareqat motoriyah, yang berdzikir melalui deru motor, gemuruh mesin dan bertasbih bersama kecepatan mekanik jiwa Anda. Luar biasa… luar… biasa. Anda satu-satunya di dunia… Ha…ha…ha…” 

Diantara jengah tawa mereka, perempuan cantik berpakaian ketat menghampiri mereka dengan senyum yang khas. Susi, pelayan kafe itu sengaja bergabung dengan teman-teman Jack.
“Kenalkan, saya Susi…”
Susi yang cantik itu hanya membuat para pemotor besar itu ndomblong bolong, antara percaya dan tidak.
“Jack, buat kite mane donk…”
“Kalian perlu tahu, kalau kalian adalah pemotor yang penuh dengan dzikir, maka Susi adalah waitres penuh dengan gairah rindu Ilahi. Lihat bagaimana dia tersenyum dan menyapa, lihat pula bagaimana teduhnya matanya. Pandangan matanya saja, bukan membuat kita jadi nakal, tapi malah menjadi obat pelipur duka jiwa. Membuat kita malah bertobat…”
“Ya, Jack, benar! Dapat dari mana kamu, Jack.”
“Dari kubangan Lumpur di jakarta.”
Mereka manggut-manggut sambil memandang Susi lewat…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar