Selasa, 22 Januari 2019

Si Jack

Nama Jack sama sekali tidak dikenal di kalangan Ulama, Kyai, cendekiawan Muslim atau pun para Ustadz di Jakarta. Ia dikenal dengan nama yang mirip dengan nama-nama Ustadz atau Kiai. Kebetulan malam itu, Jack mendatangi sebuah undangan musyawarah alim Ulama dan Ustadz-ustadz se jabotabek. Tidak jelas, dalam rangka apa sesungguhnya mereka dikumpulkan. Sebab sudah jadi salah kaprah saat ini, para Kiai, Ulama, Ustadz sering dikumpulkan untuk dukung mendukung kekuasaan atau orang perorang. Jack tidak peduli, dan dia mau datang, apakah untuk mendukung seseorang atau tidak, ia hanya berniat baik belaka.

Wow, ternyata yang datang dari berbagai kalangan Ulama. Ada yang muda adat yang tua, ada yang dipapah sakit-sakitan, ada yang kelihatan klimis layaknya selebritis, ada pula yang berjubah ala jenggotan.

“Wah, bagus ini!” kata Jack dalam hati. Tidak jelas kenapa Jack membatin begitu.

Ketika mereka memasuki arena itu, penerima tamu sangat kaget dengan pakaian Jack yang mirip koboy. Jack lupa, sepulang dari wilayah remang-remang dia langsung menuju ke arena itu. Ia baru sadar ketika seorang penerima tamu agak curiga dengan kehadiran Jack.  Untung dia membawa undangan.

“Betulkah bapak ini Ustadz…..hmmm….”

“Ya.!” Jawab Jack singkat agak garang pula.

Penerima tamu itu hanya bisa melongo kayak kebo.

Acara dimulai dari pidato ke pidato. Rupanya Jack baru ingat kalau tema pertemuan itu akan membicarakan peran Ulama dan Cendekiawan Muslim untuk membangun Jakarta. Akh… rupanya pidato demi pidato berlangsung seperti lomba pidato. Semua bicara dengan gaya model orator jurkam, hantam sana hantam sini, hanya supaya disebut sebagai jagoan Jakarta. Sementara yang lain pidato kencang soal syariat melulu, kelihatan betapa dangkalnya pengetahuan mereka tentang agama. Yang lain berbusa-busa agar bisa disebut sebagai mubaligh kondang.Rasanya Jack ingin segera keluar dari arena itu. Bahkan ada sedikit penyesalan, kenapa harus datang ke tempat atau forum yang tidak lebih mirip dibanding tempat hiburan di remang-remang Jakarta?

Merek kelihatan suci, tapi hatinya? Belum tentu lebih mulia dari penghibur malam.Mereka bicara perlunya sedekah, amal jariyah, zakat, tapi selama itu pula mereka tidak mau merogoh koceknya untuk amal, malah kalau perlu mengumpulkam amal jariyah orang lain untuk kekayaannya. Mereka bicara soal Islam, soal mengikuti Sunnah Nabi, tapi mereka adalah orang yang kering jiwanya dari ajaran hakiki Rasulullah SAW. Mereka mengusulkan agar masyarakat Jakarta lebih dekat dengan Allah, tapi ironisnya justru Ustadz itu hatinya sering berselingkuh dengan hawa nafsunya, lalu berkali-kali jiwanya kehilangan Allah. Ironis, dan inilah yang membuat hati Jack gregetan.

“Astaghfirullahal ‘adziim,” lenguh Jack.

Sambil bersunggut-sungut ia keluar menuju kamar kecil. Ia ambil air wudlu, untuk meredam emosinya.  Bahkan ia juga takut sendiri, jangan-jangan apa yang dilakukan selama ini di remang-remang kota, bisa membuatnya terpeleset pada tipudaya nafsunya. Jangan-jangan terbesit pula, bahwa dirinya merasa cukup mulia di depan Allah.

Padahal… Jack tak mampu meneruskan kata hatinya. Ia istighfar berkali-kali di dekat kamar kecil itu.Lalu ia kembali menyelinap dibalik kerumunan peserta musyawarah itu.

Sedikit lega, begitu masuk acara hendak ditutup. Tiba-tiba terbesit dibenaknya untuk nekad bicara di atas podium, — padahal Jack tidak ada jadwal bicara –.

“Interupsi…Interupsi….Sebelum semua ini ditutup, apakah saya boleh bicara….?" Suara Jack mengagetkan hadirin malam itu. Mereka menyangka Jack bukan salah satu peserta, mungkin saja dilihat dari pakaiannya, anak muda ini pasti intel. Barangkali ada hal yang darurat di Jakarta mengingat situasi politik yang tidak menentu. Lalu kelihatan panitia berbisik-bisik satu sama lain, untuk memberi waktu bicara atau tidak pada Jack.

“Hmmm….Bapak kami silahkan bicara tapi mengingat waktu sudah larut, kami berharap tidak terlalu panjang…”

Semua mata tertuju pada Jack, dengan pakaian jaket kulit dan celana jean khasnya. Ia berjalan dengan gagahnya menuju podium. Ketika berdiri di mimbar, mata Jack menyapu seluruh ruangan itu. Ada aura kharismatik pada cowboy ini. Lalu hening sejenak.

Jack mulai mengucapkan salam, hamdalah dan sholawat Nabi, layaknya para Kyai berpidato. Para hadirin kaget bukan main.

Wajah Jack tiba-tiba berubah sejuk, seperti manusia salju di tengah kegersangan sahara. Saat itu Jack sedang mengutip hikmah demi hikmah dalam Kitab Al-Hikam, lalu suara jack begitu garang ketika mengutip idato-pidato Syeikh Abdul Qadir al-Jilany tentang perilaku Ulama di zamannya yang sudah brengsek.

AC yang dingin di ruangan itu tidak bisa mengalahkan gerahnya hawa nafsu yang emosional dari kalangan Ulama dan mubaligh ibukota itu. Mereka antara kesal, juga diam-diam membenarkan, bahkan mulai simpatik dan menghayati kata demi kata yang meluncur dari Jack.

“Di negeri ini, Allah sedang menyeleksi para Ulama, pejabat, pengusaha, politisi, dan seluruh rakyat. Allah akan melemparkan mereka yang terlempar dari arus kebenaran, kemuliaan, keagungan, dan keluhuran. Subhanallah, kita semua tidak tahu apakah kita yang ada disini, juga akan selamat? Coba kita hitung tinggal berapa gelintir Ulama sepuh kita di Jakarta. Coba kita hitung tinggal berapa puluh kyai di negeri ini yang benar-benar Kyai? Coba kita hitung berapa pesantren yang masih mengajarkan kitab Ihya Ulummuddin, dari 8000 pesantren yang ada? Hadirin sekalian, saya kutipkan firman Allah, “Wahai insan, apa yang memperdayaimu sehingga kamu durhaka pada Tuhanmu Yang Maha Pemurah?”

Hening kembali. Jack pun terdiam, begitu lama…lalu ia tutup dengan salam. Lalu forum itu agak gaduh, karena seorang Kiai yang tadi dipapah, pingsan, bareng dengan usainya pidato Jack. Tidak jelas apakah karena kedinginan, atau karena fisiknya yang renta. Atau ada faktor lain. Jack langsung menghampirinya. Anehnya begitu Jack datang, Kyai itu bangkit dan memeluk Jack erat-erat sembari sesenggukan tangis. Ia bisikkan sesuatu pada Jack, entah apa yag dititipkan pada Jack.Dua orang itu melepaskan pelukannya. Dan malam semakin larut saja.

“Jack, sudah malam, hampir sepertiga terakhir….” Kata seorang wanita dengan suara lembut.

Jack baru sadar, dari lamunan panjangnya mengenai peristiwa forum pertemuan para ulama Jabotabek seminggu yang lalu.

“Ya, Sus….” Jack bangkit, lalu mengambil air wudlu.

...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar